Kamis 03 Apr 2025 13:39 WIB

Trump Naikkan Tarif, Sektor Tekstil dan Alas Kaki Indonesia Terancam

Pemerintah harus segera mengambil langkah konkret.

Rep: Dian Fath Risalah/ Red: Satria K Yudha
Presiden Donald Trump berbicara dalam acara pengumuman tarif baru di Rose Garden Gedung Putih, Rabu, 2 April 2025, di Washington.
Foto: AP Photo/Evan Vucci
Presiden Donald Trump berbicara dalam acara pengumuman tarif baru di Rose Garden Gedung Putih, Rabu, 2 April 2025, di Washington.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Presiden AS Donald Trump mengobarkan perang dagang dengan memberlakukan tarif timbal balik terhadap lebih dari 60 negara, termasuk Indonesia. Kenaikan tarif resiprokal ini berpotensi menghantam industri tekstil dan alas kaki Indonesia.

Kebijakan ini dapat menyebabkan pemangkasan pesanan dari merek-merek internasional yang selama ini mengandalkan pabrik di Indonesia. Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira menilai, sektor ini akan menjadi salah satu yang paling terdampak.

Baca Juga

"Sebagian besar brand internasional yang ada di Indonesia punya pasar besar di AS. Pada 2024, ekspor pakaian jadi ke AS porsinya 61,4 persen dan alas kaki sebesar 33,8 persen. Begitu kena tarif yang lebih tinggi, brand itu akan turunkan jumlah order ke pabrik Indonesia," jelas Bhima kepada Republika, Kamis (3/4/2025).

Dampak kebijakan ini tidak hanya dirasakan di sektor ekspor, tetapi juga akan memicu persaingan ketat di pasar domestik. Produk tekstil dan alas kaki dari Vietnam, Kamboja, serta China diperkirakan akan membanjiri Indonesia, mengincar pasar alternatif.

"Sementara di dalam negeri, kita bakal dibanjiri produk dari negara-negara tersebut karena mereka mencari pasar lain. Ini semakin menekan industri tekstil dan pakaian jadi dalam negeri yang sudah kesulitan menghadapi lemahnya daya beli," tambah Bhima.

Situasi semakin diperparah dengan belum direvisinya Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) 8/2024, yang dianggap menghambat ekspor, namun tetap membiarkan impor masuk dengan deras. "Permendag 8/2024 belum juga direvisi, jadi ekspor sulit, sementara impor menekan pemain tekstil dan pakaian jadi domestik. Ini harus diubah regulasinya secepatnya," tegas Bhima.

Ancaman PHK massal di sektor padat karya ini juga menjadi perhatian serius. Jika permintaan dari AS menurun drastis dan produk impor semakin mendominasi pasar dalam negeri, banyak pabrik yang berisiko gulung tikar.

"Imbasnya layoff besar-besaran di industri ini bisa terjadi. Pemerintah harus segera mengambil langkah konkret untuk melindungi industri dalam negeri. Salah satunya dengan revisi regulasi dan kebijakan proteksi yang lebih ketat terhadap banjirnya produk impor," kata Bhima.

Indonesia, lanjut Bhima, harus berpacu dengan waktu untuk menjaga daya saingnya di industri tekstil dan alas kaki. Jika tidak ada langkah cepat, dominasi Vietnam dan China di pasar global akan semakin menggerus industri dalam negeri.

 Donald Trump telah mengumumkan tarif timbal balik parsial terhadap semua mitra dagang AS. Produk-produk dari Indonesia yang diimpor AS bakal terkena tarif sebesar 32 persen .

Dalam pernyataannya pada Rabu waktu AS, Trump mengatakan tarif dasar sebesar 10 persen akan dikenakan pada semua impor AS. Setidaknya 60 negara akan menghadapi tarif individual, yang dihitung sebesar setengah dari tarif dan hambatan lain yang “dibebankan kepada AS” oleh negara-negara tersebut. Misalnya, dia mengatakan, Uni Eropa mengenakan tarif sebesar 39 persen terhadap impor AS, sehingga AS akan mengenakan tarif sebesar 20 persen.

Dengan skema itu. dalam daftar yang ditunjukkan Trump, produk Indonesia yang diimpor AS akan dikenai tarif 32 persen. Di Asia Tenggara, persentase tarif atas produk Indonesia adalah salah satu yang paling tinggi meski masih di bawah Kamboja (49 persen), Vietnam (46 persen), dan Thailand (36 persen). 

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement