Ahad 11 Oct 2020 07:36 WIB

ExxonMobil tak Lagi Jadi Perusahaan Termahal Dunia?

Posisi Exxon bahkan lebih buruk dari Chevron dan NextEra Energy.

Rep: Intan Pratiwi/ Red: Nidia Zuraya
ExxonMobil . Ilustrasi
Foto: Google
ExxonMobil . Ilustrasi

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Raksasa migas Amerika Serikat, ExxonMobil, mengalami degredasi pasar selama dua pekan terakhir. Sepanjang sejarah perusahaan ini menduduki peringkat teratas di puncak klasemen saham.

Sayangnya, badai menerpa Exxon dan kemudian merampas kapitalisasi pasar mereka. Analis Energi Robert Rapier menyebutkan posisi Exxon bahkan lebih buruk dari Chevron dan NextEra Energy.

Baca Juga

Ia menilai hal ini tak lain karena beberapa keputusan investasi yang diambil perusahaan dinilai kurang efisien. "(Ini) merujuk pada akuisisi produsen gas alam XTO Energy yang tidak tepat waktu sebesar 36 miliar dolar AS pada Desember 2009 sebagai faktor pemicu. Harga gas alam kemudian jatuh, dan harga yang dibayar perusahaan menjadi terlalu tinggi. ExxonMobil juga mengalami kesalahan langkah yang mahal di Rusia dan di pasir minyak Kanada," ujar Rapier dalam ulasannya di Forbes, Ahad (11/10).

Pada perdagangan pekan ini, nilai saham ExxonMobil turun dan perusahaan harus kehilangan kapitalisasi pasar sebesar 225 miliar dolar AS. "Saya harus menunjukkan bahwa banyak yang menganggap nilai perusahaan, yang antara lain mencakup nilai utang perusahaan, sebagai indikator yang lebih baik untuk nilai pasar perusahaan. Nilai perusahaan ini mewakili total biaya yang dibutuhkan untuk mengakuisisi perusahaan. Dengan ukuran itu, ExxonMobil dengan 229 miliar dolar AS masih nyaman di atas Chevron (140 miliar dolar AS) dan NextEra (193 miliar dolar AS)," ujar Rapier.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement