Jumat 20 Oct 2017 16:20 WIB

Italia Desak Bank Sentral Eropa tak Persulit Kredit

Rep: Fergi Nadira B/ Red: Elba Damhuri
ECB
Foto: Alex Domansky
ECB

REPUBLIKA.CO.ID, BRUSSELS -- Besarnya kasus kredit macet di Eropa berdampak pada langkah baru Bank Sentral Eropa (ECB) yang leboh ketat. Perdana Menteri (PM) Italia Paolo Gentiloni pun protes atas kebijakan baru ECB yang mempersulit pencairan kredit ini.

Gentiloni meminta jaminan dari otoritas Uni Eropa agar sistem perbankan lebih memudahkan kredit, bukan malah menghambat pinjaman dengan upaya meningkatkan pengelolaan kredit macet. Pencadangan dana yang digeneralisasi tersebut, kata dia, merupakan tindakan gegabah.

Bank Sentral Eropa yang merupakan pengawas bank-bank terbesar wilayah euro telah mengusulkan bank-bank agar menyisihkan sejumlah besar uang untuk mengatasi kredit macet tersebut. Investor khawatir hal ini akan memengaruhi pinjaman lebih lanjut dengan bank-bank Italia --yang menurut data ECB--  menunjukkan hampir 30 persen dari total utang bermasalah senilai 915 miliar euro (1,1 triliun dolar AS).

Gentiloni mengajukan persoalan ini kepada Presiden Komisi Eropa Jean-Claude Juncker. "Saya akan mendesak perlunya serikat perbankan menjadi alat untuk memperbaiki pinjaman bank. Seharusnya tidak ada tindakan yang tidak tepat atau tidak tepat waktu yang dapat menghambat pemberian pinjaman," ujar Gentiloni kepada wartawan di sebuah pertemuan para pemimpin menjelang KTT Uni Eropa, Kamis (20/10).

Gentiloni tidak membuat referensi langsung ke ECB yang independen terhadap Komisi dan mendapat kritik dari Italia mengenai proposalnya. Negara-negara wilayah euro telah meluncurkan sebuah skema untuk memperkuat sistem perbankan mereka di bawah sebuah rencana yang dikenal sebagai serikat perbankan.

Di bawah skema ini, bank memiliki satu pengawas yaitu Mekanisme Pengawas Tunggal ECB dan satu set peraturan baru, jika mereka runtuh.

Bagian yang hilang dari serikat adalah sistem pan-Eropa untuk melindungi deposito bank, di mana Jerman tidak ingin menyetujui sampai bank-bank wilayah euro mengurangi pinjaman macet mereka.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement