Rabu 08 Nov 2023 21:14 WIB

Pertumbuhan Ekonomi Melambat, Pemerintah Harus Jaga Daya Beli Masyarakat

Sebab daya beli masyarakat masih jadi penopang utama pertumbuhan ekonomi.

Rep: Rahayu Subekti/ Red: Fuji Pratiwi
Pengunjung memilah beras SPHP di salah satu pusat perbelanjaan di Jakarta, Senin (9/10/2023).
Foto: Republika/Thoudy Badai
Pengunjung memilah beras SPHP di salah satu pusat perbelanjaan di Jakarta, Senin (9/10/2023).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi pada kuartal III melambat dibandingkan kuartal sebelumnya. Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Mohammad Faisal mengatakan dari kinerja pertumbuhan ekonomi pada kuartal III, perlu diwaspadai performa konsumsi rumah tangga yang secara tahunan melambat dan secara kuartalan terkontraksi.

"Oleh karena itu yang perlu diwaspadai oleh pemerintah adalah agar kebijakan-kebijakan jangan sampai kontraproduktif terhadap upaya untuk menjaga daya beli masyarakat," kata Faisal kepada Republika.co.id, Rabu (8/11/2023).

Baca Juga

Sebab, lanjut Faisal, daya beli masyarakat masih menjadi penopang utama dari pertumbuhan ekonomi. Dia mengatakan daya beli masyarakat andilnya hampir 60 persen dan sangat berpengaruh terhadap hajat hidup orang banyak.

Untuk itu, Faisal menegaskan, pengendalian inflasi terutama dari sektor pangan menjadi penting. "Upaya penciptaan lapangan pekerjaan dan peningkatan pendapatan ini perlu terus menjadi fokus walaupun di tengah tahun politik," jelas Faisal.

 

Selain itu, Faisal menuturkan pemerintah juga perlu mengantisipasi pelemahan ekonomi global untuk menjaga pertumbuhan ekonomi hingga akhir tahun ini. Hal tersebut juga berdampak terhadap net ekspor Indonesia yang melemah walaupun masih surplus.

Meskipun begitu, Faisal menuturkan, pertumbuhan ekonomi pada kuartal ketiga memang selalu terkontraksi dibandingkan kuartal sebelumnya. "Ini karena kuartal II ada Ramadhan dan Lebaran. Tetapi kalau kita bandingkan dengan tahun lalu di kuartal III sama-sama terjadi kontraksi tapi kontraksi pada kuartal III tahun ini lebih dalam," ungkap Faisal.

Jika melihat indikator konsumsi yang lain. Faisal menilai sangat terlihat adanya perlambatan yang signifikan dari sisi konsumsi rumah tangga yang menunjukan cenderung melemahnya daya beli masyarakat. Faisal menuturkan, hal tersebut dapat berpengaruh kepada capaian pertumbuhan pertumbuhan ekonomi.

Sebelumnya, BPS mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal III 2023 mengalami pertumbuhan secara tahunan sebesar 4,94 persen. Lalu jika dibandingkan kuartal II 2023, pertumbuhan ekonomi Indonesia juga tumbuh 1,60 persen.

"Di tengah melambatnya perekonomian global, terjadinya perubahan iklim, dan menurunnya harga komoditas ekspor unggulan, resiliensi ekonomi Indonesia kembali tercermin melalui pertumbuhan ekonomi sebesar 4,94 persen secara tahunan atau secara komulatif Indonesia ekonominya tumbuh sebesar 5,05 persen," kata Plt Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti dalam konferensi pers, Senin (6/11/2023).

Amalia menambahkan, pada kuartal III 2023, pertumbuhan ekonomi Indonesia secara kuartalan lebih rendah dibandingkan dengan kuartal sebelumnya. Amalia mengatakan hal tersebut sejalan dengan pola yang biasa terjadi di tahun-tahun sebelumnya.

"Dimana pertumbuhan ekonomi pada kuartal III  selalu lebih rendah dari pada triwulan II, kecuali 2020 saat terjadi pandemi Covid-19," ucap Amalia.

Sementara secara tahunan, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal III mengalami pertumbuhan. Dengan capaian tersebut, Amalia menegaskan, ekonomi Indonesia tetap terjaga solid dan tumbuh positif. 

 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement