Sabtu 27 May 2023 22:28 WIB

ID Survey Gandeng Anak Usaha Wika Kembangkan Ekosistem Karbon

Fokus pada pengembangan platform infrastruktur bisa terus dukung perdagangan karbon.

Rep: Muhammad Nursyamsi/ Red: Friska Yolandha
Logo baru Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) terpasang di Gedung Kementerian BUMN, Jakarta, Kamis (2/7/2020). Badan Usaha Milik Negara (BUMN) bertekad menjadi garda terdepan dalam akselerasi pengembangan ekonomi hijau dan berkelanjutan di Indonesia.
Foto: ANTARA /Aprillio Akbar
Logo baru Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) terpasang di Gedung Kementerian BUMN, Jakarta, Kamis (2/7/2020). Badan Usaha Milik Negara (BUMN) bertekad menjadi garda terdepan dalam akselerasi pengembangan ekonomi hijau dan berkelanjutan di Indonesia.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Badan Usaha Milik Negara (BUMN) bertekad menjadi garda terdepan dalam akselerasi pengembangan ekonomi hijau dan berkelanjutan di Indonesia. SVP Bisnis Komersial PT Biro Klasifikasi Indonesia (Persero) atau BKI Abdul Ghofar menyampaikan komitmen ini selaras dengan arahan Menteri BUMN Erick Thohir dalam pengembangan ekosistem karbon di BUMN.

"Kementerian BUMN tidak tanggung-tanggung dalam mengupayakan seluruh BUMN, menjadi lokomotif ekonomi nasional. Tidak hanya itu, peran kita saat ini juga menjadi pioneer dalam inisiatif ekonomi hijau dan keberlanjutan di Indonesia," ujar Ghofar dalam keterangan tertulis di Jakarta, Sabtu (27/5/2023).

Baca Juga

Ghofar mengatakan BKI yang merupakan induk holding BUMN jasa survei atau ID Survey pun telah menindaklanjuti arahan Erick dengan meneken nota kesepahaman (MoU) dengan Wijaya Karya (Wika) Industri Energi terkait kerja sama perluasan pasar dan pengembangan kegiatan operasional dalam bidang energi baru terbarukan, khususnya dalam hal dekarbonisasi. Ghofar berharap fokus pada pengembangan platform infrastruktur bisa terus mendukung perdagangan karbon secara jangka panjang. 

"ID Survey dan WIKA Industri Energi berharap bisa memperkuat posisi kedua perusahaan sebagai mitra strategis dan memperkuat kehadiran BUMN di sepanjang value chain dekarbonisasi dan ESG," ucap Ghofar.

Ghofar menilai sinergitas ini juga dapat menjadi pilihan skema kemitraan yang cukup potensial dari sisi pemasaran hingga layanan bersama  mengingat tren pasar yang semakin hari semakin fokus terhadap isu keberlanjutan.

Ghofar menyampaikan target implementasi Nilai Ekonomi Karbon (NEK) melalui perdagangan karbon tahun ini semakin diperluas dengan ditetapkannya Environmental, Social, and Governance (ESG) rating dan performance dalam bisnis berkelanjutan.

"Dekarbonisasi dan ESG harus berjalan beriringan dengan opini awal keduanya ini menguras waktu dan biaya, namun tidak dapat menghasilkan nilai tambah secara langsung," kata Ghofar.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement