Kamis 09 Apr 2020 01:57 WIB

Kuartal Pertama, Empat Proyek Hulu Migas Selesai

empat proyek ini, maka bisa menambah produksi 80 juta standar kaki kubik per hari.

Rep: Intan Pratiwi / Red: Agus Yulianto
General Manager Pertamina Hulu Energi Offshore North West Java (PHE ONWJ) Siswantoro M. Prasodjo (kiri) didampingi Direktur Operasi PT Meindo Elang Indah Bambang Sucipto (kedua kiri), Direktur Development Pertamina Hulu Energi Afif Saifudin (kedua kanan) dan Kepala Divisi Manajemen Proyek dan Pemeliharaan Fasilitas SKK Migas Luky Agung Yuysgiantoro (kanan) berbincang bersama usai acara Pelepasan Pelayaran (Sail Away) Anjungan YYA PHE ONWJ di Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. (Ilustrasi) ).
Foto: Antara/Risky Andrianto
General Manager Pertamina Hulu Energi Offshore North West Java (PHE ONWJ) Siswantoro M. Prasodjo (kiri) didampingi Direktur Operasi PT Meindo Elang Indah Bambang Sucipto (kedua kiri), Direktur Development Pertamina Hulu Energi Afif Saifudin (kedua kanan) dan Kepala Divisi Manajemen Proyek dan Pemeliharaan Fasilitas SKK Migas Luky Agung Yuysgiantoro (kanan) berbincang bersama usai acara Pelepasan Pelayaran (Sail Away) Anjungan YYA PHE ONWJ di Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. (Ilustrasi) ).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pada kuartal pertama tahun 2020, SKK Migas dan KKKS telah berhasil menyelesaikan empat proyek hulu minyak dan gas bumi (migas). Nilai investasi empat proyek hulu migas tersebut senilai 45 juta dolar AS.

Deputi Operasi Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas), Julius Wiratno menjelaskan, dengan selesainya empat proyek ini, maka bisa menambah produksi sebesar 80 juta standar kaki kubik per hari (MMscfd) dan menghasilkan listrik 4 megaWatt (mW).

“Kami bersyukur empat proyek hulu migas telah dapat direalisasi tepat waktu. Capaian ini merupakan salah satu usaha yang kami lakukan untuk menjaga produksi migas sesuai target,” ujar Julius, Rabu (8/4).

Ke empat proyek yang berhasil diselesaikan adalah 3 (tiga) proyek gas dan 1 (satu) proyek utilitas. Rinciannya adalah Grati Pressure Lowering yang dilakukan oleh Ophir Indonesia (Sampang) Pty. Ltd. di Jawa Timur. Proyek ini bertujuan untuk menghasilkan produksi gas sebesar 30 MMscfd.

Proyek kedua adalah pengembangan Lapangan gas Randugunting oleh PT PHE Randugunting di Jawa Tengah, yang berpotensi memberikan tambahan produksi 5 MMscfd. Proyek ketiga adalah pengembangan Lapangan gas Buntal-5 oleh Medco E&P Natuna Ltd. di Laut Natuna, memberikan tambahan produksi 45 MMscfd.

"Terakhir adalah pembangunan Sembakung Power Plant oleh PT Pertamina EP. Pembangkit yang dibangun akan digunakan untuk mendukung operasi hulu migas di wilayah Kalimantan Timur," ujar Julius.

Sepanjang tahun 2020 direncanakan terdapat 11 proyek hulu migas yang akan onstream. Mayoritas proyek merupakan proyek pengembangan lapangan gas. Jumlah proyek ini meningkat dibandingkan tahun 2019 yang hanya ada 9 proyek.

Keberadaan proyek hulu migas akan memberikan kontribusi pada penambahan produksi migas yang bermuara pada pemasukan negara. Selain itu, proyek-proyek hulu migas juga akan menggerakan sektor ekonomi di daerah dan menciptakan lapangan kerja.

SKK Migas dan KKKS bekerja keras menjaga agar proyek hulu migas yang ditargetkan selesai pada tahun 2020 dapat direalisasi tepat waktu. Namun, menghadapi wabah Covid-19 dan penurunan harga minyak ini, Julius mengaku pihaknya harus duduk bersama dengan KKKS untuk mengevaluasi kegiatan yang dilakukan, termasuk mengevaluasi target capaian proyek.

“Hampir semua KKKS  yang kami hubungi meminta akses khusus untuk pekerja dan material yang dibutuhkan untuk menunjang kegiatan yang mereka lakukan. Oleh karena itu kami harus membuat perencanaan ulang. Tujuannya agar kegiatan yang kami lakukan memberi manfaat maksimal bagi negara,” tambah Julius.

Sejauh ini, SKK Migas telah mengindentifikasi beberapa dampak yang ditimbulkan Covid-19 terhadap proyek hulu migas, antara lain transportasi material lebih lama, khususnya pengiriman material dari luar negeri, mobilisasi pekerja ke lokasi lebih sulit karena perizinan dan waktu karantina, kegiatan manufaktur peralatan migas untuk proyek tertunda atau lebih lama, persetujuan pengurusan perijinan lebih lama, serta produktivitas engineering dan konstruksi menjadi lebih rendah.

Beberapa upaya yang dilakukan agar proyek kegiatan tetap dapat dilaksanakan, tidak berhenti total. Salah satunya, meminta agar para kepala daerah memberikan privilege terhadap pergerakan manusia dan barang yang dibutuhkan oleh hulu migas, tanpa melanggar kaedah kehati-hatian.

“Dalam menjalankan operasi, kami selalu menjunjung tinggi keselamatan kerja. Oleh karena itu kami juga setuju dengan adanya protocol yang ketat dalam menghadapi wabah Covid-19 ini. Namun demikian kami berharap agar kegiatan lapangan tetap dapat dijalankan walaupun dengan pergerakan yang berkurang tersebut,” kata Julius.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement