Jumat 25 Oct 2019 19:19 WIB

BI Proyeksikan Pertumbuhan Ekonomi 2019 Sebesar 5,05 Persen

Ada kecenderungan investasi akan mengalir deras ke negara-negara emerging market

Rep: Lida Puspaningtyas/ Red: Nidia Zuraya
Pertumbuhan ekonomi.
Foto: Republika
Pertumbuhan ekonomi.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Bank Indonesia (BI) memproyeksikan pertumbuhan ekonomi di akhir 2019 berada di bawah titik tengah sasaran 5,1-5,4 persen. Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo menyampaikan pada konferensi pers Rapat Dewan Gubernur (RDG) Oktober, pertumbuhan ekonomi 2019 diperkirakan sebesar 5,05 persen.

Hal tersebut karena masih berlanjutnya potensi ketidakstabilan ekonomi akibat perpanjangan perang dagang. Meski saat ini sudah mengarah pada pembicaraan kesepakatan perdagangan, namun potensi ketegangan masih ada.

Baca Juga

Ini akan membuat pertumbuhan ekonomi dunia kembali melambat ke level tiga persen. Amerika Serikat sebagai mesin utama ekonomi dunia masih bisa tumbuh sekitar 2,3 persen di tahun 2020 dengan catatan pertumbuhan ekonomi mayoritas negara melambat.

Deputi Gubernur BI, Dody Budi Waluyo menyampaikan, oleh-oleh dari Pertemuan IMF-World Bank di Washington DC, AS pekan lalu adalah pesan kehatian-hatian atas kondisi di atas. Negara-negara emerging market diminta berhati-hati dalam menjaga stabilitas keuangan negara.

Ada kecenderungan investasi akan mengalir deras ke negara-negara emerging market termasuk Indonesia karena mayoritas bank sentral menurunkan suku bunganya. Ini menjadi fenomena seperti pada 2008. Saat tren suku bunga rendah terjadi secara global.

"Dana-dana itu pasti akan mencari return mana yang paling tinggi," katanya.

BI memprediksi aliran modal asing akan cenderung naik saat perlambatan ekonomi global. Dari sisi pendanaan, kondisi tersebut akan menguntungkan karena biaya pembiayaan atau cost of financing akan rendah. Namun, ada risiko overdebt.

Dody mengatakan korporasi-korporasi harus memastikan kemampuan membayarnya ketika menarik dana asing melalui instrumen pendanaan. Ini akan menjadi masalah ketika hutang tersebut tidak dikelola dengan hati-hati.

Secara umum, BI menjaga stabilitas makroekonomi dengan beragam bauran kebijakan. Tahun ini, konsumsi rumah tangga akan didorong sehingga masih di kisaran lima persen. Salah satu upayanya yakni dengan kebijakan pemerintah dalam bantuan sosial.

Pada 2020, proyeksi BI meningkat pada sasaran 5,1-5,5 persen. Pemerintah memasang target pada 5,3 persen. Sementara BI tetap pada posisi konservatif yakni menuju pada pertengahan sasaran atau sekitar 5,2 persen.

"Karena tantangannya masih ada, tapi kita sudah keluarkan berbagai kebijakan yang hitungannya akan berdampak di 2020," katanya.

Secara perhitungan, Dody menyampaikan BI netral atau mencoba balance, tidak terlalu optimis, namun juga tidak pesimis. Ia menyampaikan, testimoni dari dunia usaha, investor, baik dalam maupun luar negeri masih cukup bagus. Bisa tumbuh sebesar lima persen untuk kategori negara G20 sudah dinilai baik.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement