Rabu 02 Aug 2017 19:54 WIB

JK Dorong Energi Terbarukan untuk Penuhi Kebutuhan Listrik

Rep: Rizky Jaramaya/ Red: Bayu Hermawan
Wakil Presiden RI Jusuf Kalla dan Menteri ESDM Ignasius Jonan memberikan keterangan pers usai membuka Indonesia International Geothermal Convention & Exhibition di JCC, Rabu (2/8).
Foto: Republika/Rizky Jaramaya
Wakil Presiden RI Jusuf Kalla dan Menteri ESDM Ignasius Jonan memberikan keterangan pers usai membuka Indonesia International Geothermal Convention & Exhibition di JCC, Rabu (2/8).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Wakil Presiden Republik Indonesia Jusuf Kalla (JK) mengatakan, pertumbuhan pemakaian listrik di masa mendatang akan lebih cepat karena energi listrik akan mulai dipakai di transportasi, kebutuhan rumah tangga, dan industri. Selain itu, di masa depan penggunaan energi fosil juga akan semakin berkurang. Oleh karena itu, Jusuf Kalla mengimbau agar kebutuhan listrik harus segera dipenuhi melalui energi terbarukan.

"Kebutuhan listrik itu harus lebih cepat menggunakan renewable energy, akibat kebutuhannya meningkat dan sumber energi primernya akan beralih dari fosil ke renewable energy," ujar Jusuf Kalla dalam pembukaan Konferensi dan Eksebisi Geotermal Indonesia di Jakarta Convention Center, Rabu (2/8).

Jusuf Kalla menjelaskan, Indonesia memiliki kapasitas geotermal yang baik karena dikelilingi oleh gunung berapi. Selain itu, sumber-sumber energi terbarukan lainnya seperti hydro, angin, dan surya juga banyak tersedia di Tanah Air. Potensi ini harus dikembangkan dengan memanfaatkan teknologi yang semakin canggih agar lebih efisien.

Jusuf Kalla tidak memungkiri bahwa Indonesia masih membutuhkan energi fosil seperti batu bara. Namun perkembangan energi terbarukan jangan dilupakan. Sebab, dia tidak ingin Pulau Jawa menjadi seperti Shanghai maupun Beijing yang penuh dengan kabut akibat polusi.

"Karena itulah kalau hari ini kita bicara geotermal adalah bagaimana kita meningkatkan energi dalam kondisi yang lebih bersih dan memiliki renewable energy dengan sumber daya yang ada di negeri ini," kata Jusuf Kalla.

Kapasitas terpasang panas bumi sebesar 7.200 MW dengan investasi sekitar 23 miliar dolar AS. Sedangkan, potensi panas bumi Indonesia mencapai 28.579 MW terdiri dari total cadangan sebesar 17.506 MW dan sumber daya sebesar 11.073 MW.

Sementara itu, kapasitas terpasang pembangkit listrik panas bumi (PLTP) saat ini baru sebesar 1.698,5 MW atau 5,9 persen dari total potensi untuk pembangkit tenaga listrik. Hingga akhir 2017, direncanakan kapasitas PLTP meningkat menjadi 1.858,5 MW dengan tambahan dari PLTP Sarulla Unit 2 (sumatera Utara) kapasitas 110 MW.

Kemudian PLTP Sorik Marapi Modullar 1 (Sumatera Utara) kapasitas 29 MW, dan PLTP Kahara (Jawa Barat) kapasitas 30 MW. Sementara PLTP Ulubelu Unit 4 (Lampung) kapasitas 55 MW telah commercial on operation date (COD) pada April 2017.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement