Rabu 13 May 2026 17:33 WIB

OJK: Saham Keluar dari MSCI tak Hanya Terjadi di Indonesia

OJK menilai perubahan indeks MSCI merupakan bagian dari dinamika pasar global.

Rep: Eva Rianti/ Red: Friska Yolandha
Pengunjung mengamati layar digital yang menampilkan data pergerakan  Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Kamis 29/1/2026). IHSG pada sesi pertama kembali mengalami penghentian sementara perdagangan atau trading halt pada pukul 09.30 WIB namun mampu memangkas koreksi pada akhir sesi satu. IHSG tengah hari terperosok 492 poin atau ambles 5,91% ke level 7.828,47. Tekanan IHSG hari ini masih disebabkan Tekanan IHSG hari ini masih dibayangi oleh sentimen dari Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang menyoroti kekhawatiran investor global terhadap transparansi struktur kepemilikan saham di Indonesia. Sebanyak 720 saham turun, 65 naik, dan 22 tidak bergerak. Nilai transaksi mencapai Rp 32,75 triliun, melibatkan 42,91 miliar saham dalam 2,55 juta kali transaksi.
Foto: Republika/Thoudy Badai
Pengunjung mengamati layar digital yang menampilkan data pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Kamis 29/1/2026). IHSG pada sesi pertama kembali mengalami penghentian sementara perdagangan atau trading halt pada pukul 09.30 WIB namun mampu memangkas koreksi pada akhir sesi satu. IHSG tengah hari terperosok 492 poin atau ambles 5,91% ke level 7.828,47. Tekanan IHSG hari ini masih disebabkan Tekanan IHSG hari ini masih dibayangi oleh sentimen dari Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang menyoroti kekhawatiran investor global terhadap transparansi struktur kepemilikan saham di Indonesia. Sebanyak 720 saham turun, 65 naik, dan 22 tidak bergerak. Nilai transaksi mencapai Rp 32,75 triliun, melibatkan 42,91 miliar saham dalam 2,55 juta kali transaksi.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyampaikan, pengumuman rebalancing indeks Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang mendepak sejumlah saham bukan sekadar dialami emiten-emiten di pasar modal Indonesia. Sejumlah negara lain juga mengalami hal serupa.

Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Friderica Widyasari Dewi menuturkan, perubahan komposisi indeks MSCI merupakan bagian dari mekanisme review berkala yang didasarkan pada sejumlah parameter objektif, seperti market capitalization, free float, likuiditas, dan dinamika harga saham.

Baca Juga

“Fenomena ini juga tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi terjadi di hampir seluruh pasar Asia Pasifik pada review kali ini,” ujar Kiki dalam keterangannya, Rabu (13/5/2026).

Friderica atau yang kerap disapa Kiki mencontohkan beberapa negara, di antaranya Jepang, Taiwan, Malaysia, Korea, hingga China. Jumlah emiten yang dikeluarkan dari MSCI Global Index di negara-negara tersebut juga terbilang cukup banyak.

“Pada MSCI Global Standard Index, Jepang mengalami 14 emiten keluar, Taiwan tujuh emiten keluar, Malaysia enam emiten keluar, Korea tiga emiten keluar, bahkan China meskipun menambah 22 emiten juga mengalami 24 emiten keluar. Jadi ini mencerminkan adanya penyesuaian global portfolio allocation dan dinamika pasar yang cukup luas di kawasan, bukan semata isu spesifik Indonesia,” ungkapnya.

Namun demikian, Kiki menekankan OJK memandang hal itu tetap sebagai pengingat penting untuk terus memperkuat kualitas dan kedalaman pasar modal Indonesia. OJK bersama seluruh stakeholders akan terus mendorong penguatan market integrity, peningkatan free float dan likuiditas, perluasan basis investor, serta penguatan governance emiten agar daya saing pasar modal Indonesia semakin kuat dan berkelanjutan.

“Fundamental sektor jasa keuangan Indonesia tetap resilien dan stabil. Volatilitas jangka pendek maupun perubahan indeks global tidak mengubah komitmen kami untuk terus membangun pasar yang sehat, transparan, dan credible bagi investor domestik maupun global,” ujarnya.

Diketahui sebelumnya, lembaga penyedia indeks global, Morgan Stanley Capital International (MSCI), mengumumkan hasil tinjauan indeks pasar Indonesia dalam MSCI May 2026 Index Review.

 

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement