Selasa 29 Sep 2026 18:01 WIB

Bulog Libatkan 868 Penggilingan untuk Kejar Target 300 Ribu Ton Beras Premium

Sebanyak 868 penggilingan padi dilibatkan Bulog memperkuat pasokan beras premium.

Rep: Frederikus Dominggus Bata/ Red: Gita Amanda
Perum Bulog menggandeng sekitar 868 penggilingan padi untuk memperkuat pasokan beras premium ke pasar. (ilustrasi)
Foto: Republika/Thoudy Badai
Perum Bulog menggandeng sekitar 868 penggilingan padi untuk memperkuat pasokan beras premium ke pasar. (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Perum Bulog menggandeng sekitar 868 penggilingan padi untuk memperkuat pasokan beras premium ke pasar. Pelibatan penggilingan tersebut dilakukan untuk mengejar target penyaluran beras premium sebanyak 300 ribu ton hingga Desember 2026.

Direktur Utama Bulog Ahmad Rizal Ramdhani mengatakan penggilingan yang dilibatkan tidak hanya berasal dari perusahaan besar, tetapi juga penggilingan kecil hingga menengah yang memiliki kemampuan memproduksi beras premium. Langkah tersebut dilakukan untuk mempercepat pemenuhan pasokan beras premium di berbagai wilayah.

Baca Juga

“Kami lagi mengejar ini, makanya kami melibatkan sekitar 868 penggilingan-penggilingan padi yang mampu membuat beras premium,” kata Rizal saat ditemui wartawan di Kantor Kemenko Pangan, Jakarta, Selasa (29/9/2026).

Bulog, jelas dia, telah menyalurkan sekitar 60 ribu ton beras premium ke pasar dalam dua pekan terakhir. Penyaluran tersebut dilakukan dari Sabang hingga Merauke dan akan terus digenjot untuk memenuhi target 300 ribu ton sampai Desember.

“Bukan penggilingan-penggilingan besar kayak Wilmar saja, Topi Koki, dan lain sebagainya, bukan. Tapi penggilingan-penggilingan kecil yang menengah ke atas yang mampu membuat beras premium kita libatkan,” ujar Menko Pangan.

Rizal menjelaskan beras premium yang dipasok Bulog merupakan produk komersial dan tidak menggunakan beras PSO atau beras bersubsidi. Bulog membeli gabah dari petani melalui jalur komersial, kemudian mengolahnya menjadi beras premium sebelum dipasarkan melalui ritel modern.

“Beras premium itu yang dibuat Bulog adalah beras komersialnya Bulog. Jadi Bulog belinya bukan pakai beras PSO, bukan beras yang subsidi, tapi beras kita beli gabah-gabah hasil komersial,” kata Rizal.

Bulog memastikan beras premium yang dipasarkan telah melalui pengujian laboratorium. Perusahaan juga menyiapkan kanal pengaduan konsumen melalui layanan BELA yang akan dicantumkan pada kemasan produk.

Rizal mengatakan pelibatan ratusan penggilingan menjadi bagian dari strategi Bulog memperluas sumber pasokan beras premium. Dengan dukungan penggilingan di berbagai daerah, penyaluran beras premium diharapkan dapat terus berjalan hingga target 300 ribu ton tercapai.

Berita Lainnya

Rekomendasi