REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Mohammad Faisal mengatakan pemerintah harus mengambil langkah tepat dalam mencegah panic buying dan kelangkaan barang. Faisal mendorong pemerintah dapat menurunkan tensi emosional masyarakat dengan perbaikan dari sisi kebijakan yang selama ini menjadi akar permasalahan yang membuat masyarakat marah.
"Jadi dari sisi emosinya dulu, introspeksi dan koreksi juga terhadap kebijakan, itu harus segera direspons dan harus betul-betul konkret," ujar Faisal kepada Republika di Jakarta, Ahad (31/8/2025).
Faisal juga mendorong para pejabat publik untuk lebih berhati-hati dalam mengeluarkan pernyataan. Faisal menyampaikan pernyataan pejabat publik yang tidak memiliki empati menjadi sumber utama yang memicu kemarahan masyarakat.
"Karena kalau masih menjalar kerusuhannya, walaupun sejauh mana pun kita menyediakan stok, ya akan panic buying, ini kan lebih banyak yang melakukan spekulasi," ucap Faisal.
Faisal khawatir peningkatan produksi maupun ketersediaan stok yang kerap disampaikan pemerintah tidak akan cukup dalam memenuhi kebutuhan masyarakat jika ada fenomena panic buying. Pasalnya, lanjut Faisal, situasi ketidakpastian kerap menjadi peluang bagi orang yang tidak bertanggung jawab mengambil keuntungan dan melakukan penimbunan.
"Pemerintah harus menjawab dengan langkah yang konkret dan menenangkan supaya menghindari berlarutnya kerusuhan yang bisa menyulut pada aksi-aksi spekulasi yang dilakukan pihak-pihak yang ingin mengambil keuntungan atau yang tidak bertanggung jawab," kata Faisal.