REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Menteri Keuangan Amerika Serikat Scott Bessent menyarankan negara-negara yang terdampak tarif impor baru sebagaimana diumumkan Presiden Donald Trump untuk diam saja dan tidak membalas. Hal itu bertujuan untuk menghindari eskalasi lebih lanjut
"Saran saya kepada setiap negara saat ini adalah: jangan membalas. Diam saja. Terima dulu. Lihat bagaimana perkembangannya. Karena jika kalian membalas, maka akan terjadi eskalasi. Jika tidak membalas, ini adalah batas tertingginya," ujar Bessent dalam wawancara dengan Fox News.
Gedung Putih dalam pernyataannya pada Rabu (2/4/2025) mengumumkan bahwa Amerika Serikat akan menerapkan tarif 10 persen terhadap semua impor asing mulai 5 April 2025. Sementara tarif yang lebih tinggi bagi negara-negara dengan defisit perdagangan terbesar dengan AS akan diberlakukan mulai 9 April 2025.
Pernyataan tersebut juga menegaskan bahwa AS tidak akan memberlakukan tarif pada barang-barang impor yang penting bagi sektor manufaktur dan keamanan nasional, seperti baja, aluminium, otomotif dan suku cadangnya, tembaga, farmasi, semikonduktor, serta kayu, emas batangan, energi, dan beberapa mineral tertentu yang tidak tersedia di AS.
Selain itu, Presiden AS Donald Trump memiliki kewenangan untuk menaikkan tarif timbal balik jika negara mitra dagang memutuskan untuk melakukan tindakan balasan.
Tarif baru yang diberlakukan oleh Amerika Serikat akan mengubah perdagangan global secara fundamental dan berdampak negatif pada perekonomian AS sendiri, kata Perdana Menteri Kanada, Mark Carney.
"Presiden Trump baru saja mengumumkan serangkaian kebijakan yang akan secara mendasar mengubah sistem perdagangan internasional," ujar Carney kepada wartawan pada Rabu malam.
Carney meyakini bahwa dampak dari tarif baru ini akan semakin buruk seiring waktu dan justru merugikan Amerika Serikat sendiri.
"Jadi, kita berada dalam situasi di mana kebijakan ini akan berdampak pada perekonomian AS, dan menurut penilaian kami, dampaknya akan semakin besar seiring waktu serta bersifat negatif bagi ekonomi AS," kata Carney.
"Kebijakan itu juga akan berdampak pada Kanada, dan serangkaian langkah tersebut akan langsung memengaruhi jutaan warga Kanada," jelas perdana menteri.