Senin 25 Mar 2024 13:27 WIB

Menkeu: APBN Surplus 0,1 Persen dari PDB Per 15 Maret 2024

Surplus itu karena realisasi pendapatan negara lebih besar dibanding belanja negara.

Rep: Fauziah Mursid/ Red: Fuji Pratiwi
Menteri Keuangan Sri Mulyani bersama jajaran saat Konferensi Pers APBN KiTa Edisi Maret 2024 di Aula Mezzanine Gd. Djuanda I, Kementerian Keuangan, Senin (25/3/2024).
Foto: Republika/Fauziah Mursid
Menteri Keuangan Sri Mulyani bersama jajaran saat Konferensi Pers APBN KiTa Edisi Maret 2024 di Aula Mezzanine Gd. Djuanda I, Kementerian Keuangan, Senin (25/3/2024).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA--Menteri Keuangan (Kemenkeu) Sri Mulyani mengatakan, kinerja Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) masih terjaga dalam posisi surplus. Hingga 15 Maret 2024, APBN mengalami surplus sebesar Rp 22,8 triliun atau 0,1 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB).

"APBN masih bisa berjalan cukup baik cukup solid. Posisi APBN masih alami surplus Rp 22,8 triliun atau 0,1 persen dari PDB dengan keseimbangan primer juga surplus Rp 132,1 triliun," ujar Sri Mulyani saat Konferensi Pers APBN KiTa Edisi Maret 2024 di Aula Mezzanine Gedung Djuanda I, Kementerian Keuangan, Senin (25/3/2024).

Baca Juga

Sri Mulyani menjelaskan, surplus itu terjadi karena realisasi pendapatan negara lebih besar dibandingkan belanja negara. Adapun pendapatan negara per 15 Maret 2024 sebesar Rp 493,2 triliun atau 17,6 persen dari target Pemerintah.

"Meski dilihat dari grossnya pertumbuhan penerimaaan negara yang sangat tinggi di 2021 dan 2022, itu 2023 juga bisa tetap terjaga dan kita tau itu ikut akan alami koreksi. Jadi kita lihat pertumbuhannnya negatif 5,4 persen, jadi pendapatan negara mengalami kontraksi," ujarnya.

Sedangkan untuk belanja negara mencapai Rp 470,3 triliun atau 14,1 persen dari pagu anggaran sudah dibelanjakan. Sri Mulyani menilai angka ini tumbuh cukup tinggi yaitu 18,1 persen dibandingkan periode tahun sebelumnya atau year on year (yoy).

"Untuk belanja negara mencapai Rp 470,3 triliun ini artinya 14,1 persen dari pagu sudah dibelanjakan. dan ini tumbuh cukup tinggi yaitu 18,1 persen yoy Januari dan Februari sampai pertengahan Maret," ujarnya.

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement