Selasa 08 Mar 2022 13:18 WIB

Harga-Harga Naik, Mentan Syahrul: Kami Siap Benahi Tata Kelola Pangan

Kementan telah melakukan faktualisasi dan validasi data pangan nasional.

Rep: Dedy Darmawan Nasution/ Red: Nidia Zuraya
Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo menyatakan ketersediaan seluruh bahan pokok sesuai data pemerintah sangat mencukupi kebutuhan dalam negeri.
Foto: Republika/Thoudy Badai
Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo menyatakan ketersediaan seluruh bahan pokok sesuai data pemerintah sangat mencukupi kebutuhan dalam negeri.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo, menyatakan ketersediaan seluruh bahan pokok sesuai data pemerintah sangat mencukupi kebutuhan dalam negeri. Meski demikian, dirinya tak menampik tetap terdapat kenaikan harga dalam beberapa waktu terakhir.

"Dengan kondisi fluktuasi harga yang ada, tapi dilihat dengan ketersediaan itu cukup. Berarti yang harus kita benahi tata kelola (pangan) terutama dalam stabilisasi harga," kata Syahrul saat menerima kunjungan Wakil Presiden Ma'ruf Amin di Kantor Pusat Kemenan, Jakarta, Selasa (8/3/2022).

Baca Juga

Syahrul menegaskan, Kementan telah melakukan faktualisasi dan validasi data pangan nasional menjelang masuknya bulan Ramadhan. Ia pun optimistis persediaan pangan untuk kebutuhan dalam negeri selama bulan Ramadhan akan cukup dan bisa diamankan.

Kementan, kata Syahrul, juga ikut membantu sumber-sumber produksi pangan dengan pasar sehingga kebutuhan masyarakat tetap terjamin. Adapun soal sumber pangan impor yang saat ini mengalami kenaikan harga akibat faktor dunia, Syahrul menyatakan semestinya menjadi pelajaran agar Indonesia ke depan tidak bergantung impor. Khususnya seperti daging sapi dan kedelai yang belakangan harganya terus mengalami kenaikan.

"Saran kami, sudah saatnya kita tidak tergantung dengan impor. Kita bisa buat dan tanam. Kami siap beternak," katanya.

Secara khusus dirinya menyinggung mengenai kedelai yang menjadi bahan baku tempe namun mayoritas diimpor. Saat ini, rata-rata kebutuhan kedelai nasional mencapai 6 juta ton untuk semua bidang industri dan hampir seluruhnya disuplai impor.

"Ini terlalu besar, padahal kit abisa buat. Jaman Presiden Soeharto, dulu itu disubsidi karena makanan kita tempe dan tahu. Saya sudah siap dengan kedelai," katanya.

Adapun untuk komoditas sapi, Syahrul mengatakan, Kementan sudah membuat program secara tahunan untuk meningkatkan produksi. Hanya memang terdapat situasi yang diluar prediksi dan kendali pemerintah karena imbas faktor global.

Namun meski begitu, situasi seperti itu sudah dalam proyeksi pemerintah sehingga dipastikan persediaan daging untuk masyarakat akan aman. "Kementan akan fokus pada ketersediaan. Kita harus intervensi," kata dia.

Sementara itu, Wakil Presiden RI, Ma'ruf Amin, mengatakan, kebutuhan pangan di bulan Ramadhan jangan sampai terjadi kekurangan. Ia meminta pangan yang bisa disiapkan dari produksi lokal agar dimaksimalkan sementara impor agar segera dilakukan.

Kendati demikian, Wapres menilai, kenaikan harga pada momen Ramadhan memang biasa terjadi. Namun, kenaikan harga diharapkan tidak melewati batas-batas kewajaran. "Itu yang perlu diwaspadai jangan sampai melebihi kewajaran sehingga itu perlu dilakukan langkah-langkah antisipasi," katanya.  

Sejumlah komoditas bahan pokok mengalami kenaikan dalam beberapa pekan terakhir. Mulai dari minyak goreng, kedelai, daging sapi, cabai, hingga bawang merah yang belakangan mulai merangkak naik. Adapun beras yang menjadi sumber pangan utama, tetap stabil bahkan mengalami tren penurunan harga.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement