Kamis 09 Dec 2021 19:44 WIB

Dukung Transisi Energi, Pertamina Lakukan Inovasi Model Bisnis

Seluruh sub sektor Pertamina melakukan inovasi mendukung target net zero emissions

Vice President New Ventures Direktorat SPPU PT Pertamina (Persero) Mia Krishna Anggraini, Direktur Utama PT Pertamina Patra Niaga Alfian Nasution, Direktur Utama PT Pertamina Power Indonesia Dannif Danusaputro dan Direktur Utama PT Pertamina International Shipping (PIS) Erry Widiastono dalam Pertamina Energy Webinar
Foto: Pertamina
Vice President New Ventures Direktorat SPPU PT Pertamina (Persero) Mia Krishna Anggraini, Direktur Utama PT Pertamina Patra Niaga Alfian Nasution, Direktur Utama PT Pertamina Power Indonesia Dannif Danusaputro dan Direktur Utama PT Pertamina International Shipping (PIS) Erry Widiastono dalam Pertamina Energy Webinar

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- PT Pertamina (Persero) melakukan banyak inovasi model bisnis untuk mendukung proses transisi energi, sekaligus mendukung pencapaian target net zero emissions Indonesia pada 2060 atau lebih cepat.

Vice President New Ventures Direktorat SPPU PT Pertamina (Persero) Mia Krishna Anggraini, saat menjadi panelis sesi kedua dalam Pertamina Energy Webinar di Jakarta, Selasa (7/12) mengatakan inovasi model bisnis dapat menjadi kunci kesuksesan dan mengakselerasi pertumbuhan bisnis baru untuk menghadapi transisi energi.

"Inovasi model bisnis dapat dilakukan melalui proses inkubasi di mana New Ventures Direktorat SPPU mendukung pengembangan bisnis baru Pertamina Group dengan menyediakan ekosistem inkubasi yang dibutuhkan," katanya.

Direktur Utama PT Pertamina Patra Niaga Alfian Nasution mengatakan pihaknya melakukan inovasi model bisnis untuk mendukung proses transisi energi. Salah satu inovasi tersebut adalah menargetkan pembangunan stasiun pengisian kendaraan listrik umum (SPKLU) dan 391 unit stasiun pertukaran baterai kendaraan listrik umum (SPBKLU). "Pertamina menginisiasi bisnis SPKLU melalui skema partnership dan terintegrasi dengan aplikasi MyPertamina," katanya.

Menurut dia, Pertamina Patra Niaga menargetkan pembangunan 513 unit SPKLU/SPBKLU hingga 2024 sebagai bagian strategi transisi energi. Ke-513 unit tersebut terdiri atas 122 unit SPKLU dan 391 unit SPBKLU. Namun demikian, Alfian mengatakan diperlukan dukungan atau insentif dari pemerintah untuk mengatasi challenge keekonomian bisnis kendaraan listrik (electric vehicle/EV) yang belum baik. Bentuk dukungan tersebut adalah terkait ekosistem yang belum terbentuk untuk mendapat keekonomian yang baik.

Alfian menyebutkan, dukungan yang diperlukan adalah insentif dan regulasi yang pro EV antara lain free atau diskon pemasangan ID pelanggan baru, pemberian tarif curah untuk SPKLU/SPBKLU, free abodemen minimal selama dua tahun, dan insentif untuk pengguna EV agar dapat menurunkan total cost ownership (TCO) EV dengan benchmark di Taiwan.

Selanjutnya, dukungan terkait teknologi yang diperlukan antara lain keperluan fleksibilitas teknologi SPKLU (minimal 1 socket untuk SPKLU) dan standarisasi baterai KBLBB roda dua.

Menyangkut perizinan, pengelolaan izin usaha jasa penunjang tenaga listrik (IUJPTL) satu pintu di Pertamina bagi partner SPBU Pertamina (mitra DODO) dengan standar tetap mengikuti aturan yang berlaku.

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement