Senin 01 Jul 2019 16:57 WIB

Tarif Pesawat Mahal Sumbang Deflasi Terbesar di Kota Malang

Penurunan tarif pesawat dianggap memiliki andil terbesar atas situasi ini.

Rep: Wilda Fizriyani/ Red: Andi Nur Aminah
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS), Sunaryo (kanan) menjelaskan deflasi  Kota Malang selama Juni 2019 di Kantor BPS, Sukun, Kota Malang, Senin  (1/7).
Foto: Republika/Wilda Fizriyani
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS), Sunaryo (kanan) menjelaskan deflasi Kota Malang selama Juni 2019 di Kantor BPS, Sukun, Kota Malang, Senin (1/7).

REPUBLIKA.CO.ID, MALANG -- Kota Malang harus mengalami deflasi hingga -0,17 persen pada Juli 2019. Penurunan tarif pesawat dianggap memiliki andil terbesar atas situasi ini.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Malang, Sunaryo mengatakan, penurunan tarif pesawat sebenarnya bukan pertama kali terjadi di Kota Malang. "Sudah dimulai sejak Mei, dan ini telah memberikan andil besar. Sebab, tarif pesawat sesungguhnya bisa memberikan deflasi sekaligus juga dapat memberi dampak inflasi di Kota Malang," ujar Sunaryo kepada wartawan di Kantor BPS, Sukun, Kota Malang, Senin (1/7).

Baca Juga

Hingga saat ini, Sunaryo tak menampik, pemerintah pusat masih menunggu keputusan seluruh maskapai. Maskapai penerbangan harus memberikan laporan tarif terbaru yang meringankan pengguna. Jika penurunan serentak terjadi, maka dia memprediksi deflasi pun akan kembali terjadi di Kota Malang. "Dan ini jadi berita baik juga untuk pengguna maskapai," tambah Sunaryo.

Selain tarif pesawat yang turun hingga -0,52 persen, Sunaryo mengungkapkan, bahan makanan juga ikut memengaruhi deflasi kali ini. Penurunan hingga -0,49 persen berasal dari perubahan harga pada bawang, daging ayam ras, telur, tongkol, bandeng dan daging sapi. Secara keseluruhan, terdapat tujuh komoditas makanan yang mengalami penurunan harga di Juni lalu.

Kelompok makanan jadi, sebenarnya berada dalam kondisi inflasi pada bulan lalu. Namun karena jumlahnya hanya 0,05 persen, pengaruhnya tidak terlalu kuat. "Karena pengaruh deflasi lebih tinggi dari inflasi, jadi Kota Malang deflasi," katanya.

Dengan adanya capaian hingga -0,17 persen, Kota Malang pun disebut sebagai daerah deflasi tertinggi se-Jawa Timur (Jatim). Bahkan, angkanya terlampau jauh dengan rata-rata inflasi di Jatim. Jatim sendiri mengalami inflasi sekitar 0,13 persen.

Di posisi kedua, Jember menjadi daerah peraih deflasi tertinggi kedua. Angkanya tidak jauh berbeda dengan Kota Malang, yakni -0,16 persen. Sementara wilayah inflasi terbesar jatuh pada daerah Probolinggo dengan angka 0,48 persen. Kemudian disusul Banyuwangi sekitar 0,36 persen dan Madiun 0,22 persen.

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement