Sabtu 08 Sep 2018 10:29 WIB

Terdampak Dolar, Harga Komoditas Kedelai Naik

Meski begitu, harga tempe dan tahu belum mengalami kenaikan.

Rep: Muhammad Fauzi Ridwan/ Red: Esthi Maharani
Kedelai
Foto: imgbuddy
Kedelai

REPUBLIKA.CO.ID, SOREANG -- Kenaikan nilai tukar dolar terhadap rupiah mencapai Rp 15 ribu menyebabkan harga komoditas kedelai sebagai bahan baku tempe dan tahu di Kabupaten Bandung mengalami kenaikan. Meski begitu, harga tempe dan tahu belum mengalami kenaikan.

Salah seorang pedagang di Pasar Soreang, Aep Rahmat (60) mengungkapkan saat ini harga komoditas kedelai mengalami kenaikan dari Rp 7750 menjadi Rp 8000. Hal tersebut berdampak terhadap biaya produksi.

"Naiknya Rp 250 karena harga dolar naik. Baru terjadi dua hari kemarin," ujarnya, Jumat (7/9). Menurutnya, apabila harga dolar naik maka otomatis harga kedelai naik sebab didatangkan impor.

Meski naik, ia menuturkan harga tahu dan tempe tidak mengalami kenaikan. Sebab, menurutnya, sulit untuk menaikkan harga kedua makanan yang digemari masyarakat Indonesia tersebut. Saat ini, harga tahu Rp 400-500 perbiji dan tempe Rp 4000-4500 perbatang.

Ia mengatakan, memproduksi tahu di kediamannya sementara tempe mengambil dari pengrajin tempe yang ada di Banjaran, Kabupaten Bandung. "Susah  naikin harga, harus serentak dan musyawarah," katanya.

Bupati Bandung Dadang M Naser berharap kenaikan dolar tidak berdampak kepada Indonesia secara signifikan dan bisa bertahan ditengah persaingan perekonomian dunia.  Ia pun meminta dengan kondisi saat ini agar mengangkat produk lokal.

"Yang naik akibat dolar gak hanya kedelai tapi juga jagung dan pakan ternak. Komoditas tersebut diimpor," katanya. Dia mengatakan tengah berusaha mengantisipasi agar tidak terjadi inflasi di Kabupaten Bandung.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement