Senin 18 Jan 2016 10:59 WIB

Kekayaan 62 Konglomerat Setara Separuh Penduduk Dunia

Rep: Hasanul Rizqa/ Red: Indira Rezkisari
Uang dolar AS
Foto: Pixabay
Uang dolar AS

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ketimpangan ekonomi masih menjadi masalah global yang pelik di awal tahun 2016.

Sebuah penelitian yang dilakukan lembaga filantropis Oxfam International menemukan, 62 konglomerat dunia memiliki kekayaan yang setara dengan penghasilan dari setengah jumlah penduduk miskin dunia. Demikian dilansir CNN, Ahad (17/1).

Dalam lima tahun terakhir, kekayaan milik kaum konglomerat itu juga meningkat pesat lebih dari setengah triliun dolar AS. Dibandingkan tahun 2010, kekayaan 388 konglomerat setara dengan setengah penduduk miskin dunia, yang berjumlah 3,6 miliar jiwa.

Oxfam merilis hasil riset tersebut dalam laporan tahunannya di hadapan World Economic Forum di Davos, Swiss, belum lama ini. Forum tersebut merupakan tempat bertemunya para pebisnis global, akademisi, dan pemimpin dunia.

"Kekayaan telah terdistribusi dengan derasnya tapi hanya berpusat ke segelintir elite," kata Direktur Kebijakan dan Riset Oxfam America, Gawain Kripke.

Dua puluh persen penduduk miskin dunia hidup dengan penghasilan di bawah 1,9 dolar AS per hari. Kenaikan penghasilan mereka, menurut Kripke, dalam kurun tahun 1988-2010 hampir tidak ada.

Di lain pihak, dalam rentang waktu yang sama, 10 persen kaum elite dunia menikmati peningkatan kekayaan sebesar 46 persen.

"Ekonomi global tidak bekerja efektif untuk mengangkat penghasilan orang-orang yang didera kemiskinan," ujar Kepala Divisi Riset Oxfam, Deborah Hardoon.

Untuk mengatasi ketimpangan ekonomi, pihak Oxfam menyerukan pemimpin dunia agar fokus mengatasi pengemplangan pajak. Tercatat, ada potensi sebesar 7,6 triliun dolar AS yang seharusnya bisa ditarik dari pajak kaum konglomerat. Pajak dapat menjadi alat pemerataan kekayaan yang efektif.

Dalam riset terpisah, Pew Research Center menemukan, dalam satu dekade terakhir, 71 persen penduduk dunia masih memiliki penghasilan di bawah 10 dolar AS per hari.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement