Selasa 19 May 2015 08:49 WIB

Dua Kesepakatan Prioritas dalam Pertemuan Tingkat Menteri Perdagangan APEC

Rep: Rizky Jaramaya/ Red: Satya Festiani
Asia Pacific Economic Cooperation (APEC) nations' leaders and spouses pose for a family photo at Beijing National Aquatics Center, or the Water Cube, in Beijing, November 10, 2014
Foto: Reuters/China Daily
Asia Pacific Economic Cooperation (APEC) nations' leaders and spouses pose for a family photo at Beijing National Aquatics Center, or the Water Cube, in Beijing, November 10, 2014

REPUBLIKA.CO.ID, BORACAY -- Direktur Kerjasama APEC dan Organisasi Internasional Kementerian Perdagangan Deny W. Kurnia mengatakan, penguatan WTO dan nasib perundingan Putaran Doha tetap menjadi prioritas dalam Pertemuan Tingkat Menteri Perdagangan  Asia Pacific Economic Cooperation (APEC) pada 24-25 Mei 2015 di Boracay, Filipina. Pasalnya, kelahiran dan keberadaan APEC adalah untuk memelihara dan memperkuat sistem perdagangan multilateral yang adil dan terbuka.

"Dukungan APEC bagi penyelesaian perundingan Putaran Doha yang adil sangatlah penting,”  ujar Deny, dalam rilis yang diterima Republika, Selasa (19/5).

Deny mengatakan, agenda dalam Putaran Doha mencakup implementasi Paket Bali yang dihasilkan Konferensi Tingkat Menteri ke-9 WTO. Implementasi tersebut terdiri dari pertanian, fasilitasi perdagangan, pembangunan, serta isu-isu negara kurang berkembang.

“Liberalisasi sektor pertanian dunia harus mengedepankan pembukaan pasar bagi produk negara berkembang, perlindungan pasar, dan penghapusan subsidi di negara maju yang menyebabkan sektor pertanian mereka memiliki daya saing artifisial," ujar Deny.

Komisi Perdagangan dan Investasi APEC bahkan telah menyiapkan pernyataan khusus tentang WTO. Pernyataan tersebut berisi seruan agar Konferensi Tingkat Menteri ke-10 WTO di Kenya, pada Desember 2015 mendatang harus berhasil mengembalikan pamor WTO sebagai lembaga utama pengatur perdagangan antar negara.

Pasalnya kini peran WTO makin disaingi oleh fenomena seperti  Free Trade Agreement  (FTA). Selain itu, menurut Deny, Indonesia berkepentingan agar WTO segera merampungkan Program Kerja Pasca KTM-9 Bali dan penyelesaian Putaran Doha yang mengedepankan dimensi pembangunan.

Adapun kesepakatan lain yang akan dibahas dalam pertemuan tersebut diantaranya, pencapaian Tujuan Bogor 2020, Free Trade Area of the Asia Pacific (FTAAP), dan Program Keterhubungan (connectivity) APEC 2015-2025 bagi kelancaran perdagangan dan investasi. Tak hanya itu, nternasionalisasi usaha kecil dan menengah (UKM), serta penguatan sektor jasa juga masuk dalam agenda pertemuan.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement