Jumat 03 May 2024 20:16 WIB

BI: Rupiah akan Kembali Menguat ke Rp 16 Ribu pada Bulan Depan

Penguatan Rupiah juga turut didorong oleh prospek ekonomi Indonesia.

Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo.
Foto: Republika/ Rahayu Subekti
Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengatakan, mata uang Rupiah akan menguat ke level Rp 16 ribu per dolar AS, bahkan hingga Rp 15.800 di bulan depan atau mulai Juni 2024.

“Penguatan nilai tukar rupiah itu akan terus berlangsung dari sekarang sampai dengan akhir tahun. Itu terpantau kalau kita lihat data-data di pasar yang non-delivery forward di luar negeri atau domestic non-delivery forward di dalam negeri dalam tempo satu bulan ke depan juga akan terus menguat mengarah ke Rp 16 ribu,” kata Perry saat konferensi pers Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) di Jakarta, Jumat (3/4/2024).

Baca Juga

Menurut Perry, penguatan nilai tukar Rupiah terhadap dolar AS dikarenakan adanya empat faktor utama. Yang pertama, dengan keputusan BI menaikan suku bunga atau BI Rate menjadi 6,25 persen. Selain itu, bank sentral juga menaikkan suku bunga deposit facility menjadi sebesar 5,5 persen dan suku bunga lending facility di level 7 persen.

Faktor kedua, penguatan Rupiah didorong dari Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) yang terus mencatatkan inflow. Hal ini mencerminkan kembali bahwa investasi portofolio Rupiah masih menarik bagi para investor.

 

"Ini daya tarik imbal hasil investasi portofolio di Indonesia kembali menarik dengan kenaikan itu kalau dibanding India, perbedaan yield lebih baik sehingga lebih attractive," ujarnya.

Sebagai informasi, berdasarkan data BI, SRBI hingga Mei 2024 mencatatkan inflow sebesar Rp 1,58 triliun, diikuti dengan surat berharga negara (SBN) yang juga sudah mencatatkan inflow Rp 3,75 triliun.

"Sampai dengan kemarin SRBI, tiga hari pertama pada minggu Mei ini sampai dengan kemarin SRBI inflow terus jumlahnya Rp 1,58 triliun bahkan SBN yang semula outflow sudah inflow, minggu pertama Mei, tiga hari pertama ini total adalah Rp 3,75 triliun," kata Perry.

Faktor ketiga, penguatan Rupiah juga turut didorong oleh prospek ekonomi Indonesia yang baik serta berdaya tahan kuat, seperti pertumbuhan ekonomi di atas 5 persen, inflasi rendah, kredit juga terus tumbuh.

Faktor keempat, lanjut Perry, penguatan rupiah dipacu juga oleh komitmen BI untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dengan terus koordinasi dengan pemerintah dan KSSK.

sumber : ANTARA

Seberapa tertarik Kamu untuk membeli mobil listrik?

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement