Rabu 17 Apr 2024 13:42 WIB

Ekonom: Ada Lonjakan Investasi Manufaktur pada Satu Dekade Terakhir

Industri manufaktur pada 2023 memiliki nilai investasi Rp 565,25 triliun.

Pengunjung melihat-lihat barang yang dipamerkan dalam Pameran Indo Leather & Footwear Expo 2023 di JlExpo, Kemayoran, Jakarta, Kamis (3/5/2023). Pameran bertaraf internasional dalam bidang sepatu, kulit dan fashion ini bertujuan meningkatkan efisiensi dalam industri manufaktur kulit dan alas kaki dalam membantu pelaku bisnis mengoptimalkan proses produksi, menghasilkan produk kulit berkualitas dan mengenalkan inovasi atau trend fashion kulit saat ini. Pameran yang berlangsung 3-5 agustus 2023 ini diikuti oleh lebih dari 200 peserta baik lokal maupun internasional.
Foto: Republika/Prayogi
Pengunjung melihat-lihat barang yang dipamerkan dalam Pameran Indo Leather & Footwear Expo 2023 di JlExpo, Kemayoran, Jakarta, Kamis (3/5/2023). Pameran bertaraf internasional dalam bidang sepatu, kulit dan fashion ini bertujuan meningkatkan efisiensi dalam industri manufaktur kulit dan alas kaki dalam membantu pelaku bisnis mengoptimalkan proses produksi, menghasilkan produk kulit berkualitas dan mengenalkan inovasi atau trend fashion kulit saat ini. Pameran yang berlangsung 3-5 agustus 2023 ini diikuti oleh lebih dari 200 peserta baik lokal maupun internasional.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Peneliti Ekonomi CORE Indonesia, Yusuf Rendy Manilet menyampaikan ada lonjakan nilai investasi pada sektor industri pengolahan nonmigas atau manufaktur dalam kurun waktu satu dekade atau 10 tahun terakhir.

Yusuf dalam keterangannya di Jakarta, Rabu (17/4/2024) menjelaskan industri manufaktur pada tahun 2014 memiliki nilai investasi sebesar Rp 186,79 triliun, kemudian meningkat menjadi Rp 565,25 triliun pada tahun 2023.

Baca Juga

Menurutnya secara kumulatif, realisasi investasi di sektor industri pengolahan nonmigas selama 10 tahun (periode 2014-2023) sudah mencapai Rp 3.031,85 triliun.

"Terus menanjaknya nilai investasi di sektor industri manufaktur ini adalah salah satu indikasi Indonesia tidak mengalami kondisi deindustrialisasi," katanya.

Selain itu dirinya mengatakan salah satu program yang diterima baik oleh para pelaku industri manufaktur yakni kebijakan hilirisasi. Ia menilai hilirisasi mencatatkan kinerja realisasi investasi yang signifikan, terutama untuk subsektor industri logam dasar, sehingga apabila program itu terus berjalan akan selaras dengan upaya pemerintah dalam mendorong realisasi berbagai produk hasil tambang.

Dirinya berharap nilai tambah dari produk yang dihasilkan dari program hilirisasi ini juga akan ikut membantu pertumbuhan sektor industri manufaktur dalam jangka menengah hingga panjang.

Lebih lanjut Ekonom CORE tersebut menyampaikan, untuk memaksimalkan potensi industri manufaktur, perlu adanya peningkatan koordinasi antar kementerian maupun lembaga.

Hal ini supaya kebijakan yang bergulir bisa memberikan manfaat berkelanjutan yang lebih besar bagi perekonomian Indonesia.

"Kerap kali peraturan atau regulasi yang sudah diputuskan di level pusat tidak dapat dijalankan di level daerah karena alasan-alasan tertentu dan saya kira ini yang kemudian perlu diperbaiki. Saya kira pemerintah tengah berada dalam posisi memperbaiki, tinggal saat ini bagaimana memastikan proses perbaikan ini berlangsung sesuai dengan yang diharapkan oleh pemerintah,” kata dia.

Di sisi lain Chief Economist PermataBank Joshua Pardede mengatakan kemajuan sektor industri manufaktur yang ditopang program hilirisasi, dipandang memberikan dampak positif dalam mengatasi masalah pelebaran current account deficit (CAD) yang dihadapi Indonesia.

Ia menilai beberapa penyebab utama terjadinya pelebaran CAD sudah dapat dikurangi dampaknya oleh pemerintah melalui kebijakan hilirisasi.

Adapun posisi Indonesia di jajaran manufaktur dunia diperkuat oleh nilai output industri yang terus meningkat pada periode 2020 hingga September 2023. Pada 2020, nilai output industri tercatat sebesar 210,4 miliar dolar AS, kemudian meningkat menjadi 228,32 miliar dolar AS pada 2021, serta meningkat kembali sebesar 241,87 miliar dolar AS pada 2022.

Sementara hingga September 2023, nilai output industri telah mencapai sekitar 192,54 miliar dolar AS.

sumber : ANTARA
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement