Kamis 07 Mar 2024 06:14 WIB

Dukung Produksi Bioetanol dari Tebu, Kemenko Perekonomian Siapkan Peta Jalan

Peta jalan itu akan difinalisasi pada akhir Maret 2024.

Deputi Bidang Koordinasi Pangan dan Agribisnis Kemenko Perekonomian Dida Gardera saat menjawab pertanyaan awak media di Kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, Rabu (6/3/2024).
Foto: ANTARA/Bayu Saputra
Deputi Bidang Koordinasi Pangan dan Agribisnis Kemenko Perekonomian Dida Gardera saat menjawab pertanyaan awak media di Kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, Rabu (6/3/2024).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian tengah menyiapkan peta jalan (roadmap) sebagai turunan Peraturan Presiden Nomor 40 Tahun 2023 tentang Percepatan Swasembada Gula Nasional dan Penyediaan Bioetanol sebagai Bahan Bakar Nabati. Dalam perpres tersebut, pemerintah membidik perluasan lahan perkebunan tebu seluas 700 ribu hektare guna mewujudkan swasembada gula untuk konsumsi pada 2028 dan untuk industri pada 2030.

Peta jalan dalam bentuk Keputusan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian (Kepmenko Perekonomian) itu akan difinalisasi pada akhir Maret 2024.

Baca Juga

"Itu yang sedang kita rumuskan roadmap-nya, mungkin dalam waktu satu bulan ini akan selesai. Itu nanti bentuknya dalam Kepmenko," kata Deputi Bidang Koordinasi Pangan dan Agribisnis Kemenko Perekonomian Dida Gardera di Kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, Rabu (6/3/2024).

Dida mengatakan, tantangan utama yang harus diselesaikan pemerintah saat ini yakni mempersiapkan lahan yang sesuai untuk dimanfaatkan sebagai perkebunan tebu.

Pemerintah menargetkan peningkatan produktivitas tebu sebesar 93 ton per hektare melalui perbaikan praktik agrikultur berupa pembibitan, penanaman, pemeliharaan tanaman, serta tebang muat angkut.

Sedangkan saat ini, kata Dida, pemerintah baru mencapai tingkat produktivitas tebu sekitar 60 ton per hektare. Sebagai komparasi, dia membandingkan dengan Brasil yang terbilang sudah berhasil mengoptimalkan produktivitas perkebunan tebunya hingga mencapai lebih dari 100 ton per hektare.

"Di Brasil produktivitasnya (perkebunan tebu) lebih besar dari kita. Itu karena memang ada teknologinya," tuturnya.

Dalam Perpres No 40 Tahun 2023 yang diteken Presiden Joko Widodo, pemerintah menargetkan percepatan swasembada gula dan penyediaan bioetanol sebagai bahan bakar nabati (biofuel) dengan pemenuhan kebutuhan gula konsumsi dan industri, serta peningkatan produksi bioetanol dari tebu.

Sebagaimana tercantum dalam Pasal 3, pemerintah berniat menambah areal lahan baru perkebunan tebu seluas 700 ribu hektare yang bersumber dari lahan perkebunan, lahan tebu rakyat, dan lahan kawasan hutan. Kemudian, efisiensi, utilisasi, dan kapasitas pabrik gula untuk mencapai rendemen ditargetkan sebesar 11,2 persen.

"Kita sudah punya perpresnya untuk swasembada gula dan bioetanol di 2028 dan 2030. Dua track, kita semaksimal mungkin meningkatkan produktivitasnya, intensifikasinya. Kedua, tetap kita membutuhkan lahan," sebutnya.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement