Jumat 23 Feb 2024 18:45 WIB

Naiknya Harga Beras Bisa Picu Inflasi Bulanan Februari Lebih Tinggi

Tingginya harga beras saat ini disebut disebabkan oleh faktor musiman.

Rep: Rahayu Subekti/ Red: Lida Puspaningtyas
Harga Beras (ilustrasi)
Foto: Republika
Harga Beras (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sejak awal 2024, masyarakat mulai menghadapi tingginya harga beras dan berkontribusi dalam inflasi Januari 2023. Ekonom sekaligus Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Mohammad Faisal mengungkapkan naiknya harga beras ini juga akan memberikan dampak pada inflasi bulan ini.

"Inflasi bulanannya bisa lebih tinggi dibanding Januari kemarin, tapi tetap di bawah 0,1 persen," kata Faisal kepada Republika, Jumat (23/2/2024).

Baca Juga

Meskipun begitu, Faisal menuturkan tingginya harga beras saat ini memang disebabkan oleh faktor musiman. Selain itu juga saat ini masih dalam kondisi telat panen sehingga membuat harga beras cenderung tinggi.

Faisal memproyeksikan harga beras dapat berubah setelah kondisi musiman tersebut berakhir. "Tapi nanti pada Maret 2023 mestinya (harga beras) sudah turun," tutur Faisal.

 

Sementara itu, Deputi Gubernur Bank Indonesia, Aida S Budiman mengungkapkan kenaikan harga beras pada Januari 2024 berdampak kepada inflasi bulanan sebesar 0,64 persen. Hal tersebut mengakibatkan kenaikan harga beras memiliki bobot sebesar 3,43 persen terhadap inflasi bulanan jika menggunakan SBH 2022 yang dikeluarkan Badan Pusat Statistik (BPS).

"Sehingga ini kenapa salah satu penyebab inflasi volatile food kita (Januari 2024) sebesar 7,32 persen," kata Aida dalam konferensi pers RDG Bulanan BI Februari 2024, Rabu (21/2/2024).

Aida memaparkan berdasarkan survei pantauan harga yang dilakukan BI, harga beras terpantau naik signifikan di beberapa daerah. Seperti di Nusa Tenggara Barat, Aida menyebut harga beras sudah menyentuhnya Rp 12.947 per kilogram dan di Kalimantan Tengah mencapai Rp 18.800 per kilogram.

Aida menuturkan, penyebab kenaikan harga beras karena kondisi El Nino yang mengganggu musim tanam. Meskipun saat ini sudah musim hujan, Aida mengungkapkan kondisi tersebut baru 70 persen.

"Musim hujan baru 70 persen. Kalau dibandingkan Januari tahun lalu sudah 77 persen. Ini akibatnya ada pergeseran periode tanam beras," ujar Aida.

Untuk mengatasi kondisi tersebut, Aida mengatakan pemerintah sudah melakukan penguatan cadang beras pemerintah (CBP). Aida memastikan sejauh ini stok beras dinilai sudah cukup untuk konsumsi nasional.

"CBP itu bulan Januari hampir 1,2 juta ton, artinya kecukupan pasokan itu ada," ungkap Aida.

Untuk itu, Aida menyebut saat ini pemerintah terus melakukan stabilisasi pasokan dan harga pangan (SPHP). Selain itu juga melaksanakan operasi pasar untuk menjaga stabilitas pasokan harga pangan hingg penyaluran bantaun beras untuk Januari, Maret, April, dan Juni 2024.

Aida menambahkan meskipun harga beras memicu kenaikan namun inflasi masih tetap terjaga. "Sejauh ini memang kita lihat ada kenaikan tapi mudah2m-mudahan under control dan kita punya targetnya volatile food tidak jauh-jauh dari lima persen," jelas Aida.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement