Senin 27 Nov 2023 19:23 WIB

Dipakai Industri Baja, Adaro Minerals Yakin Kebutuhan Batu Bara Metalurgi Meningkat

Tren permintaan batu bara metalurgi premium dipastikan terus meningkat.

Rep: Dedy Darmawan Nasution/ Red: Ahmad Fikri Noor
Ilustrasi kegiatan operasional Adaro Minerals.
Foto: Adaro Minerals
Ilustrasi kegiatan operasional Adaro Minerals.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — PT Adaro Minerals Indonesia Tbk (ADMR) optimistis, prospek pasar komoditas batu bara metalurgi dari Indonesia tetap cerah di tengah kebutuhan global yang diprediksi terus meningkat. Investor Relation Manager PT Adaro Minerals Indonesia, Danuta Komar mengatakan, pasokan batu bara metalurgi dunia masih mengalami keterbatasan seiring kurangnya minat investasi. Di sisi lain, tren permintaan batu bara metalurgi premium dipastikan terus meningkat seiring kebutuhan produksi baja dengan blast furnace yang akan mendominasi.

“India akan menjadi pendorong utama melampui China dan Jepang. Pertumbuhan ekonomi di India akan mendorong jumlah pabrik baja dan mendorong untuk mengimpor batu bara metalurgi,” kata Danuta dalam Public Expose Live 2023, Senin (27/11/2023). 

Baca Juga

Danuta menambahkan, Australia dan Kanada juga mengalami keterbatasan dalam suplai batu bara metalurgi. Oleh karena itu, lanjut dia, keterbatasan tersebut menjadi peluang bagi Indonesia. Pertumbuhan di dalam negeri diyakini perseroan akan memiliki prospek positif di tengah pasokan yang terbatas. 

Direktur ADMR, Hendri Tamrin mengatakan, hingga pertengahan tahun ini, inflasi menjadi pembicaraan dunia yang disertai dengan pengetatan moneter. Namun, ADMR meyakini negara-negara di dunia seiring berjalannya waktu pasti akan mengalami pelonggaran kebijakan yang diikuti dengan meningkatnya pertumbuhan ekonomi. 

 

“Ini akan membuka peluang pasar yang banyak sejalan dengan rencana ekspansi perusahaan,” kata Hendri. 

Adapun untuk saat ini pasar ekspor ADMR dipusatkan ke negara-negara Asia yang diproyeksi menjadi pusat pertumbuhan ekonomi dunia ke depan. Jepang, China, dan India masih menjadi pasar utama luar negeri. Namun, kata Hendri, tidak menutup kemungkinan kawasan Asia Selatan dan Asia Tenggara akan menjadi pasar baru untuk produk batu bara metalurgi premium yang diproduksi ADMR. 

 

“Kami akan terus fokus untuk memperkuat portofolio kami dan diharapkan semua customer kami memiliki hubungan long term,” ujarnya. 

Sebagai informasi, total volume penjualan batu bara mencapai 3,01 juta ton per kuartal III 2023. Penjualan itu naik 38 persen dibandingkan periode sama tahun lalu. Perseroan optimistis bisa mencapai target 2023 sebesar 3,8 juta ton hingga 4,3 juta ton.

ADMR membukukan pendapatan 720,62 juta dolar AS per September 2023. Pendapatan ADMR naik 8,12 persen dari 666,48 juta dolar AS bila dibandingkan periode sama tahun lalu. 

Sementara itu, beban pokok pendapatan ADMR per September 2023 mencapai 341,01 juta dolar AS atau naik dari sebelumnya 251,5 juta dolar AS per September 2022. 

Laba bruto ADMR turun menjadi 379,60 juta dolar AS bila dibandingkan periode September 2022 lalu yang sebesar 414,88 juta. Adapun, laba bersih ADMR turun 11,87 persen dari sebelumnya yang sebesar 283,36 juta dolar AS.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement