Rabu 28 Jun 2023 01:00 WIB

DBS Indonesia Optimistis Dapat Salurkan Pembiayaan ESG Rp 4,8 Triliun pada 2023

Pada 2022, outstanding kredit ESG DBS mencapai Rp 1,1 triliun.

Rep: Retno Wulandhari/ Red: Friska Yolandha
PT Bank DBS Indonesia berkomitmen mendukung program pemerintah untuk mencapai emisi nol bersih pada 2060.
Foto: Bank DBS Indonesia
PT Bank DBS Indonesia berkomitmen mendukung program pemerintah untuk mencapai emisi nol bersih pada 2060.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- PT Bank DBS Indonesia berkomitmen mendukung program pemerintah untuk mencapai emisi nol bersih pada 2060. Per Mei 2023, DBS Indonesia sudah menyalurkan pembiayaan berbasis Environmental, Social and Good Governance (ESG) mencapai Rp 3,92 triliun. 

Executive Director, Institutional Banking Group PT Bank DBS Indonesia Heru Hatman mengatakan kontribusi bank dalam menyalurkan pembiayaan ESG terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Pada akhir 2022, jumlah outstanding kredit DBS Indonesia yang dikategorikan sebagai pembiayaan ESG mencapai Rp 1,1 triliun.  

Baca Juga

"Dibandingkan akhir tahun lalu, ada kenaikan sebesar 249 persen menjadi sekitar Rp 3,92 triliun di pertengahan Mei 2023," jelas Heru, Selasa (27/6/2023).

Dalam dua tahun terakhir, menurut Heru, DBS Indonesia sudah menyalurkan pembiayaan ke sejumlah perusahaan energi, diantaranya Indika Energy melalui transition term loan facility sejumlah 27,5 juta dolar AS dan startup e-fishery melalui working capital facility sejumlah Rp 500 miliar.

 

DBS Indonesia juga menyalurkan pembiayaan hijau untuk PLN sejumlah 750 juta dolar AS, pembiayaan kembali utang PT Semen Indonesia Tbk (SIG) sejumlah Rp 8 triliun, pembiayaan hijau secara sindikasi dengan BRI sejumlah Rp 1 miliar dolar AS serta untuk mendukung proyek baterai listrik di Indonesia sebesar 711 juta dolar AS. 

DBS Indonesia pun optimistis dapat menyalurkan pembiayaan berbasis ESG hingga Rp 4,8 triliun pada 2023. Jika jumlah tersebut tercapai, menurut Heru, outstanding pembiayaan hijau DBS Indonesia di 2023 akan melebihi target yang ditetapkan.

"Sebelumnya target kami sekitar 12 persen dari outstanding kredit tahun lalu. Berdasarkan pipeline yang sedang kami kerjakan saat ini mungkin bisa bertambah sekitar Rp 800 miliar. Jadi sampai akhir 2023 mungkin pembiayaannya akan mencapai Rp 4,8 triliun," jelas Heru.

Dalam penyaluran kredit, terdapat sembilan sektor yang menjadi fokus utama, mulai dari sektor aviasi, otomotif, properti, kimia, pangan dan pertanian, minyak dan gas, energi, baja, dan pelayaran. Kesembilan sektor tersebut dipilih karena telah mewakili 31 persen keseluruhan portofolio kredit, namun sektor-sektor tersebut menyumbang lebih dari 90 persen emisi karbon.

Heru mengatakan transisi dari energi konvensional menuju ke energi yang lebih hijau memang membutuhkan waktu. Tantangan yang dihadapi oleh industri dalam melakukan transisi energi adalah keamanan pasokan, keberlanjutan, serta keterjangkauan harga. 

Dalam perjalanannya, transisi ini pun membutuhkan dana yang besar untuk membangun fasilitas baru dan menyediakan teknologi yang mumpuni untuk menciptakan independensi dan mengurangi impor bahan baku. Oleh karena itu, kontribusi yang dapat diberikan oleh industri perbankan adalah dengan memberikan pembiayaan berupa green loans atau bonds, sustainability-linked loans atau bonds, serta transition loans atau bonds. 

"Sebagai purpose-driven bank, kami senantiasa mendorong transition financing di mana pada tahun 2022 Bank DBS Indonesia telah menyalurkan pendanaan sebesar Rp 2 triliun untuk membantu sejumlah korporasi dalam bertransisi," ujar Heru.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement