Kamis 25 May 2023 12:04 WIB

Jeda Perdagangan, IHSG Betah di Zona Merah

IHSG melemah ke level 6.719,72 atau turun 0,39 persen.

Rep: Retno Wulandhari/ Red: Ahmad Fikri Noor
Pekerja berada di depan layar yang menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Rabu (26/4/2023). IHSG melemah ke level 6.719,72 atau turun 0,39 persen dibandingkan hari sebelumnya.
Foto: ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A
Pekerja berada di depan layar yang menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Rabu (26/4/2023). IHSG melemah ke level 6.719,72 atau turun 0,39 persen dibandingkan hari sebelumnya.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) harus melorot hingga jeda perdagangan Kamis (25/5/2023). IHSG melemah ke level 6.719,72 atau turun 0,39 persen dibandingkan hari sebelumnya.

Pelemahan IHSG sejalan dengan pergerakan bursa global. "Di Asia, indeks saham dibuka beragam setelah indeks saham utama di Wall Street semalam ditutup turun," kata Phillip Sekuritas Indonesia.

Baca Juga

Sentimen investor tertekan oleh kebuntuan negosiasi penambahan plafon utang (Debt-Ceiling) pemerintah AS. Negosiasi berlangsung lebih lama dari yang diperkirakan.

Sementara itu, agen pemeringkat Fitch Ratings memasukkan rating AAA surat utang Pemerintah AS ke dalam daftar negatif (Negative Watch). Alasannya, negosiasi plafon utang yang masih berlangsung telah menaikkan risiko gagal bayar pemerinrah AS.

Notulen pertemuan kebijakan bank sentral AS (Federal Reserve) pada 2–3 Mei lalu memperlihatkan pejabat tinggi Federal Reserve secara umum sepakat bahwa kebutuhan untuk melanjutkan kenaikan suku bunga acuan semakin tidak pasti.

Di pasar komoditas, harga minyak mentah naik lebih dari satu persen dan mencapai level tertinggi dalam tiga minggu setelah data dari lembaga Pemerintah AS, dalam hal ini Energy Information Administration (EIA), memperlihatkan persediaan minyak mentah AS minggu lalu mencatatkan penurunan terbesar dalam enam bulan.

Pelaku pasar juga merespons peringatan yang dikeluarkan oleh Menteri Energi Arab Saudi yang telah memperbesar prospek pemangkasan lebih lanjut pada volume produksi minyak mentah OPEC+.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement