Senin 20 Feb 2023 16:12 WIB

Minyak Naik Didorong Harapan Cina dan Kekhawatiran Prospek Pasokan

Pembukaan kembali Cina serta permintaan jet global mendorong risiko kenaikan harga.

Sebuah kilang minyak lepas pantai (ilustrasi). Harga minyak naik dalam perdagangan Asia pada Senin (20/2/2023) sore, di tengah optimisme atas pemulihan permintaan China dan kekhawatiran bahwa kurangnya investasi akan mengurangi pasokan minyak di masa depan dan produsen utama mempertahankan batas produksi.
Foto: Antara/FB Anggoro
Sebuah kilang minyak lepas pantai (ilustrasi). Harga minyak naik dalam perdagangan Asia pada Senin (20/2/2023) sore, di tengah optimisme atas pemulihan permintaan China dan kekhawatiran bahwa kurangnya investasi akan mengurangi pasokan minyak di masa depan dan produsen utama mempertahankan batas produksi.

REPUBLIKA.CO.ID, SINGAPURA -- Harga minyak naik dalam perdagangan Asia pada Senin (20/2/2023) sore, di tengah optimisme atas pemulihan permintaan Cina dan kekhawatiran bahwa kurangnya investasi akan mengurangi pasokan minyak di masa depan dan produsen utama mempertahankan batas produksi.

Minyak mentah berjangka Brent terangkat 70 sen atau 0,8 persen, menjadi diperdagangkan di 83,70 dolar AS per barel pada pukul 07.20 GMT. Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS untuk Maret yang berakhir pada Selasa (21/2/2023) naik 55 sen atau 0,7 persen menjadi diperdagangkan di 76,89 dolar AS per barel. Kontrak April yang lebih aktif naik 0,8 persen menjadi diperdagangkan di 77,14 dolar AS.

Baca Juga

Kedua harga acuan minyak menetap turun dua dolar AS per barel pada Jumat (17/2/2023) dan ditutup lebih rendah sekitar 4,0 persen minggu lalu, setelah Amerika Serikat melaporkan persediaan minyak mentah dan bensin yang lebih tinggi.

"Harga Brent dan WTI naik sedikit pagi ini setelah aksi jual karena komentar Fed yang hawkish baru-baru ini, menyusul rilis data IHK dan IHP yang lebih kuat dari perkiraan di AS," kata Kepala penelitian komoditas di National Australia Bank, Baden Moore.

 

Sementara itu pengumuman pekan lalu bahwa AS akan menjual 26 juta barel minyak mentah dari Cadangan Minyak Strategis menambah beberapa tekanan ke pasar, pasokan global diperkirakan "datar hingga turun" dibandingkan periode yang sama sebelumnya setelah memperhitungkan pengurangan produksi oleh Rusia dan OPEC+, tambah Moore.

Dia merujuk pada kesepakatan Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan sekutunya, kelompok yang dikenal sebagai OPEC+, Oktober lalu untuk memangkas target produksi minyak sebesar 2 juta barel per hari (bph) hingga akhir 2023.

Rusia berencana memangkas produksi minyak sebesar 500 ribu barel per hari atau sekitar 5,0 persen dari produksi pada Maret setelah Barat memberlakukan batasan harga pada minyak dan produk minyak Rusia.

"Dalam konteks itu, kami terus melihat pembukaan kembali Cina dan rebound di China serta permintaan jet global untuk mendorong risiko kenaikan harga," kata Moore.

Cina adalah importir minyak mentah terbesar di dunia. Para analis memperkirakan impor minyak Cina mencapai titik tertinggi sepanjang masa pada 2023 karena meningkatnya permintaan bahan bakar transportasi dan kilang baru mulai beroperasi.

Cina, bersama dengan India, telah menjadi pembeli utama minyak mentah Rusia setelah embargo Uni Eropa. Pada saat yang sama, kekurangan pasokan minyak di masa depan cenderung mendorong harga menuju 100 dolar AS per barel pada akhir tahun, analis dari Goldman Sachs mengatakan dalam catatan 19 Februari.

Harga akan bergerak lebih tinggi "karena pasar berputar kembali ke defisit dengan kurangnya investasi, kendala minyak serpih dan disiplin OPEC memastikan pasokan tidak memenuhi permintaan," tulis mereka.

 

sumber : ANTARA
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement