Selasa 25 Oct 2022 15:10 WIB

Penerbitan Obligasi Masih Kuat di Tengah Tren Kenaikan Suku Bunga

Penerbitan obligasi korporasi per September 2022 sudah mencapai Rp 131,94 triliun

Rep: Retno Wulandhari/ Red: Ichsan Emrald Alamsyah
Penerbitan obligasi korporasi sepanjang sembilan bulan pertama tahun 2022 tercatat cukup marak. Pemulihan ekonomi yang masih terus berjalan disebut menjadi salah satu faktor utama ramainya penerbitan surat utang tersebut (obligasi)
Foto: dokpri
Penerbitan obligasi korporasi sepanjang sembilan bulan pertama tahun 2022 tercatat cukup marak. Pemulihan ekonomi yang masih terus berjalan disebut menjadi salah satu faktor utama ramainya penerbitan surat utang tersebut (obligasi)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Penerbitan obligasi korporasi sepanjang sembilan bulan pertama tahun 2022 tercatat cukup marak. Pemulihan ekonomi yang masih terus berjalan disebut menjadi salah satu faktor utama ramainya penerbitan surat utang tersebut.

Berdasarkan data Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo), penerbitan obligasi korporasi per September 2022 sudah mencapai Rp 131,94 triliun. Angka tersebut jauh lebih tinggi dari periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 77,56 triliun. 

"Penerbitan surat utang di 2022 memang sudah cukup ramai. Faktor pendukungnya karena ekonomi sudah mulai bergerak, ecara ekonomi kondisi tahun ini lebih baik dari tahun lalu," kata Kepala Divisi Pemeringkatan Non Jasa Keuangan I Pefindo, Niken Indriarsih, Selasa (25/10).

Dari sisi penggunannya, menurut Niken, sebagian besar penerbitan obligasi digunakan untuk mendanai kegiatan modal kerja dan refinancing. Niken menjelaskan, bisnis di sektor komoditas saat ini sudah mulai berjalan kembali sehingga memerlukan pendanaan untuk modal kerja. 

"Selain itu ada juga banyak surat utang emiten yang akan jatuh tempo pada tahun ini sehingga ada kebutuhan untuk refinancing," kata Niken. 

Ekonom Pefindo, Suhindarto, optimistis tren penerbitan obligasi sepanjang tahun 2022 akan cukup baik. Suhindarto memperkirakan nilai penerbitan obligasi sampai akhir tahun berpotensi mencapai Rp 153,24 triliun. 

"Tersisa sekitar Rp 21 triliun yang masih bisa akan terbit di kuartal IV 2022," ungkapnya. 

Suhindarto melihat penerbitan obligasi hingga akhir tahun ini masih dipengaruhi berbagai tantangan dan peluang. Salah satunya yakni terkait kebijakan suku bunga yang akan kembali meningkat di tengah inflasi yang masih meningkat ke depan. 

Meski demikian, Suhindarto berpandangan, minat perussahaan menerbitkan obligasi tahun ini masih akan lebih tinggi dibanding tahun depan. Kemungkinan pada tahun depan inflasi masih akan tinggi dan imbasnya suku bunga akan diketatkan kembali. 

Selain itu, penerbitan obligasi tahun depan juga akan dipengaruhi kondisi jelang pemilu. "Untuk memilih presiden baru dan bukan dari petahana, biasanya pasar obligasi cenderung wait and see baik dari sisi investor maupun issuer," jelasnya. 

Hingga akhir tahun, tren penerbitan obligasi masih akan didukung sejumlah sentimen positif. Dia memperkirakan perekonomian di tahun ini masih menunjukkan pemulihan yang cukup baik di samping inflasi yang masih diupayakan untuk ditekan. 

Pemerintah dan Bank Indonesia masih akan tetap menjaga daya beli masyarakat. Suhindarto melihat konsumsi tahun ini akan cukup baik dan mampu menjadi penopang pertumbuhan di 2022. 

Dari sisi investasi juga masih akan meningkat seiring beberapa kebijakan pelonggaran-pelonggaran kredit di berbagai sektor. "Selain itu, kondisi rupiah jika dibandingkan negara-negara peers masih relatif lebih stabil, sehingga kami memperkirakan hingga akhir tahun prospek penerbitan obligasi masih baik," tutupnya.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement