Selasa 08 Sep 2020 10:23 WIB

Hubungan AS-China Memanas, Rupiah Diprediksi Tertekan

Indikasi pemulihan ekonomi AS sendiri juga membantu penguatan dolar AS.

Petugas menunjukkan uang pecahan rupiah dan dolar AS (USD) di tempat penukaran uang Dolarindo, Melawai, Jakarta, Rabu (22/7/2020). Pada perdagangan hari ini, Rabu (22/7/2020) nilai tukar rupiah terhadap dolar AS ditutup menguat 91 poin dilevel Rp14.650 per USD dari penutupan sebelumnya dilevel Rp14.741 per USD.
Foto: ANTARA/Rivan Awal Lingga
Petugas menunjukkan uang pecahan rupiah dan dolar AS (USD) di tempat penukaran uang Dolarindo, Melawai, Jakarta, Rabu (22/7/2020). Pada perdagangan hari ini, Rabu (22/7/2020) nilai tukar rupiah terhadap dolar AS ditutup menguat 91 poin dilevel Rp14.650 per USD dari penutupan sebelumnya dilevel Rp14.741 per USD.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Nilai tukar (kurs) rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada Selasa (8/9) diprediksi tertekan seiring memanasnya hubungan Amerika Serikat dan China. Pada pukul 9.29 WIB, rupiah masih melemah 40 poin atau 0,27 persen menjadi Rp 14.780 per dolar AS dari sebelumnya Rp 14.740 per dolar AS.

Kepala Riset dan Edukasi Monex Investindo Futures Ariston Tjendra mengatakan, pagi ini terlihat dolar masih menguat terhadap nilai tukar regional.

Baca Juga

"Ini dipicu oleh kekhawatiran terhadap memanasnya hubungan AS dan China karena rencana pemerintah AS yang akan memblokir perdagangan dengan perusahaan semikonduktor terbesar China," ujar Ariston.

Selain itu, lanjut Ariston, indikasi pemulihan ekonomi AS sendiri juga membantu penguatan dolar AS.

"Data-data indeks aktivitas manufaktur dan tenaga kerja AS yang dirilis lebih bagus dari proyeksi di pekan lalu," katanya.

Ariston memperkirakan hari ini rupiah bergerak di kisaran Rp 14.650 per dolar AS hingga Rp 14.850 per dolar AS. Pada Senin (7/9) lalu, rupiah ditutup menguat 10 poin atau 0,07 persen menjadi Rp 14.740 per dolar AS dari sebelumnya Rp 14.750 per dolar AS.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement