Kamis 12 Feb 2026 11:13 WIB

Rupiah Berpotensi Menguat Seiring Data Ekonomi AS Melemah

Data ritel dan ketenagakerjaan AS memengaruhi pergerakan nilai tukar rupiah.

Nilai tukar rupiah pada pembukaan perdagangan di Jakarta, Kamis (12/2/2026), bergerak melemah 25 poin atau 0,15 persen menjadi Rp 16.811 per dolar AS dari sebelumnya Rp 16.786 per dolar AS. (ilustrasi)
Foto: Republika/Prayogi
Nilai tukar rupiah pada pembukaan perdagangan di Jakarta, Kamis (12/2/2026), bergerak melemah 25 poin atau 0,15 persen menjadi Rp 16.811 per dolar AS dari sebelumnya Rp 16.786 per dolar AS. (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Nilai tukar rupiah pada pembukaan perdagangan di Jakarta, Kamis (12/2/2026), bergerak melemah 25 poin atau 0,15 persen menjadi Rp 16.811 per dolar AS dari sebelumnya Rp 16.786 per dolar AS. Namun, Analis Bank Woori Saudara Rully Nova memperkirakan kurs rupiah berpotensi menguat terbatas seiring data ekonomi AS yang lemah.

“Rupiah pada perdagangan hari ini diperkirakan melanjutkan penguatan meski masih terbatas di kisaran Rp 16.750-Rp 16.800, dipengaruhi oleh data ekonomi AS yang lemah yang memberikan sinyal bagi The Fed untuk pelonggaran moneter,” katanya di Jakarta, Kamis.

Baca Juga

Tercatat, AS mengumumkan data penjualan ritel pada Desember 2025 bergerak datar di 0,0 persen month to month (mom), melambat dari November 2025 dan lebih rendah dari ekspektasi pasar sebesar 0,4 persen mom.

Selain itu, data ketenagakerjaan non-farm payrolls (NFP) AS sebesar 130 ribu pada Januari 2026, lebih tinggi dari proyeksi 70 ribu, namun lebih rendah dibandingkan pertumbuhan 181 ribu pada Desember 2025.

Namun, total pertumbuhan pekerjaan nonpertanian untuk 2025 direvisi menurun menjadi 181 ribu dari 584 ribu.

Pelaku pasar juga tengah menunggu rilis data inflasi AS yang diperkirakan sesuai prediksi dan tak banyak berubah dibandingkan periode sebelumnya, yakni 0,3 persen secara bulanan dan 2,7 persen year on year.

Melihat sentimen domestik, lanjut dia, pelaku pasar menyoroti fundamental ekonomi Indonesia dan ruang fiskal pemerintah. “Perekonomian Indonesia banyak ditopang oleh belanja masyarakat, namun tren kenaikan inflasi ke depan akan terus berlanjut dan dapat menggerus daya beli masyarakat,” ungkap Lukman.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement