REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Ketegangan di Timur Tengah memicu kekhawatiran pelaku pasar. Serangan Amerika Serikat dan Israel ke sejumlah target di Iran, termasuk Teheran, dibalas dengan serangan rudal Iran ke wilayah Israel dan fasilitas militer AS di kawasan. Media resmi Iran bahkan melaporkan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei tewas dalam serangan tersebut.
Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi menilai eskalasi ini berpotensi berkepanjangan dan berdampak langsung pada pasar keuangan global, termasuk harga emas dan nilai tukar rupiah.
“Serangan yang cukup masif ini mengindikasikan ketegangan akan meningkat. Iran sudah melakukan pembalasan ke Israel dan pangkalan Amerika di Timur Tengah. Kemungkinan besar konflik ini masih akan terus meletup, baik jangka pendek maupun menengah,” ujar Ibrahim, Ahad (1/3/2026).
Menurut dia, situasi tersebut menjadi sentimen positif bagi harga emas dunia. Investor cenderung mencari aset aman di tengah ketidakpastian geopolitik.
“Ini akan berdampak positif terhadap harga emas dunia. Dalam perdagangan besok pagi sangat mungkin terjadi gap up. Bisa saja menyentuh 5.440-an (dolar AS) bahkan 5.500 dalam waktu singkat,” katanya.
Kenaikan emas global, lanjut Ibrahim, berpotensi dibarengi pelemahan rupiah. Kombinasi keduanya akan mendorong harga emas batangan di dalam negeri.
“Kalau emas dunia naik dan rupiah melemah tajam, harga logam mulia domestik bisa kembali ke kisaran Rp 3.300.000 sampai Rp 3.400.000 per gram,” ujarnya.
Lonjakan harga emas biasanya diikuti peningkatan minat beli masyarakat, baik untuk lindung nilai maupun investasi jangka pendek. Namun Ibrahim mengingatkan warga agar tetap rasional.
Menurut dia, volatilitas tinggi bisa memicu pergerakan harga yang cepat, baik naik maupun turun. “Masyarakat perlu berhati-hati. Jangan hanya ikut sentimen sesaat, tapi perhatikan risiko,” katanya.
Di sisi lain, pelemahan rupiah berpotensi menekan harga barang impor dan bahan baku industri. Jika konflik meluas dan berlangsung lama, dampaknya bisa merembet ke inflasi dan daya beli.
Pelaku pasar kini mencermati respons lanjutan dari kedua pihak. Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) telah mengumumkan dimulainya operasi ofensif besar sebagai respons atas serangan tersebut. Situasi ini membuat pasar global bergerak fluktuatif.
Bagi masyarakat, gejolak eksternal seperti ini bukan hanya soal geopolitik, tetapi juga menyentuh harga kebutuhan dan stabilitas ekonomi rumah tangga. Pemerintah dan otoritas moneter diharapkan menjaga stabilitas agar dampak rambatan bisa ditekan.