Senin 02 Mar 2026 12:10 WIB

Antisipasi Gejolak Timur Tengah, BI  Pasang ‘Kuda-Kuda’ Jaga Stabilitas Rupiah

BI terus memantau pergerakan pasar.

Rep: Dian Fath Risalah/ Red: Satria K Yudha
Karyawan menghitung mata uang dolar AS di gerai penukaran mata uang asing VIP (Valuta Inti Prima) Money Changer, Jakarta, Selasa (17/10/2023).
Foto: Republika/Prayogi
Karyawan menghitung mata uang dolar AS di gerai penukaran mata uang asing VIP (Valuta Inti Prima) Money Changer, Jakarta, Selasa (17/10/2023).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Eskalasi konflik di Timur Tengah pascaserangan Amerika Serikat (AS) ke Iran memicu sentimen risk-off di pasar keuangan global. Kondisi ini turut menekan mata uang sejumlah negara berkembang, termasuk rupiah.

Merespons tekanan tersebut, Bank Indonesia (BI) memastikan otoritas moneter terus memantau pergerakan pasar dan siap melakukan langkah antisipasi.

Baca Juga

Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas (DPMA) BI Erwin Gunawan Hutapea menegaskan, pihaknya akan merespons secara tepat untuk memastikan nilai tukar bergerak sesuai fundamentalnya di tengah memburuknya sentimen global.

"Bank Indonesia akan terus mencermati pergerakan pasar secara seksama dan merespons secara tepat," ujar Erwin dalam keterangan resmi, Senin (2/3/2026).

Untuk meredam volatilitas, Bank Indonesia terus bersiaga di pasar melalui strategi intervensi ganda atau triple intervention. Langkah ini mencakup transaksi di pasar spot, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), hingga intervensi di pasar luar negeri melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF).

Selain intervensi valas, otoritas moneter juga akan mengoptimalkan kebijakan guna meningkatkan efektivitas transmisi suku bunga. Upaya ini dilakukan agar kebijakan moneter tetap efektif menjaga stabilitas nilai tukar sekaligus mendukung momentum pertumbuhan ekonomi nasional.

Langkah stabilisasi ini dinilai krusial untuk menjaga ekspektasi inflasi, terutama dari sisi harga barang impor atau imported inflation. Sebagaimana diketahui, memanasnya tensi geopolitik biasanya memicu investor menarik dana dari aset berisiko dan beralih ke instrumen safe haven, yang memberikan tekanan depresiasi pada mata uang Garuda.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement