Kamis 09 Jul 2020 16:12 WIB

Sri Mulyani Prediksi Ekonomi Semester I Kontraksi 1,1 Persen

Ekonomi kuartal kedua diprediksi kontraksi 3,8 persen sehingga semester I minus.

Rep: Adinda Pryanka/ Red: Friska Yolandha
Menteri Keuangan Sri Mulyani memproyeksikan, ekonomi Indonesia sepanjang semester kedua tahun ini mengalami kontraksi dengan rentang antara negatif 1,1 persen hingga negatif 0,4 persen.
Foto: ANTARA/Akbar Nugroho Gumay
Menteri Keuangan Sri Mulyani memproyeksikan, ekonomi Indonesia sepanjang semester kedua tahun ini mengalami kontraksi dengan rentang antara negatif 1,1 persen hingga negatif 0,4 persen.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Menteri Keuangan Sri Mulyani memproyeksikan, ekonomi Indonesia sepanjang semester kedua tahun ini mengalami kontraksi dengan rentang antara negatif 1,1 persen hingga negatif 0,4 persen. Prediksi tersebut turun signifikan dibandingkan realisasi semester pertama tahun lalu, yakni tumbuh positif 5,05 persen.

Sri menuturkan, kontraksi dikarenakan pandemi Covid-19 yang menuntut pemerintah untuk membuat kebijakan pembatasan aktivitas ekonomi dan sosial. Khususnya pada kuartal kedua atau periode April hingga Juni, ketika Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) mulai diterapkan di banyak kota.

Baca Juga

Sepanjang kuartal kedua, Sri memprediksi, ekonomi Indonesia tumbuh di zona negatif 3,8 persen. Angka ini turun tajam dibandingkan realisasi kuartal pertama tahun ini, 2,97 persen. 

"Sehingga, semester pertama, range pertumbuhan ekonomi antara minus 1,1 persen sampai 0,4 persen," ujarnya dalam Rapat Kerja dengan Badan Anggaran DPR, Kamis (9/7).

Sri berharap, kontraksi kuartal kedua dan semester pertama ini dapat diobati dengan pemulihan pada kuartal ketiga. Saat ini, ia sudah melihat tanda-tanda perbaikan seperti pertumbuhan penerimaan pajak sampai Purchasing Manager Index Manufaktur yang membaik pada Juni.

Berdasarkan perhitungan Kemenkeu, Sri memperkirakan, ekonomi Indonesia mampu tumbuh setidaknya nol persen atau positif pada periode Agustus sampai Oktober. "Antara minus 0,4 persen hingga positif satu persen," ujar mantan direktur pelaksana Bank Dunia tersebut.

Untuk kuartal ketiga, Sri memperkirakan, ekonomi mampu tumbuh antara minus satu hingga positif 1,2 persen. Sedangkan, kuartal keempat terus membaik pada level 1,6 persen hingga 3,2 persen. Apabila prediksi ini terwujud, ia mengatakan, pertumbuhan ekonomi tidak akan negatif sampai akhir tahun.

Sebelumnya, Sri beberapa kali menyebutkan, fokus pemerintah sekarang adalah menjaga agar terjadi pemulihan ekonomi pada kuartal ketiga dan keempat. Hal ini mengingat ekonomi hampir dipastikan mengalami kontraksi pada kuartal kedua seiring restriksi aktivitas ekonomi dan sosial untuk mencegah penyebaran virus Covid-19.

Sri juga berharap, kondisi April dan Mei yang mengalami tekanan akan menjadi kondisi terburuk sehingga sudah ada perbaikan pada Juni dan Juli. "Momentumnya jadi bisa terjaga di kuartal ketiga dan keempat. Ini fokus langkah pemerintah dalam menggunakan instrumen kebijakan saat ini," ujarnya dalam Rapat Kerja dengan Komisi XI DPR, Senin (22/6).

Tidak hanya pemerintah, Sri memastikan akan melibatkan bank sentral untuk mengawal momentum pemulihan pada kuartal ketiga dan keempat. Keterlibatan Bank Indonesia (BI) dari sisi moneter diharapkan dapat mengakselerasi pemulihan. Dampaknya, timbul kepercayaan diri untuk mencapai pertumbuhan 4,5 persen hingga 5,5 persen pada tahun depan.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement