REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kepala Peneliti Indonesia National Air Carriers Association (INACA) Wismono Nitidihardjo mengungkapkan industri penerbangan membutuhkan titik keseimbangan agar tak kian menjadi polemik. Wismono mengatakn hal tersebut dibutuhkan karena kompleksitas pengoperasian maskapai sangat erat dengan kebutuhan perencanaan.
Wismono menjelaskan beberapa faktor yang mempengaruhi hal tersebut yaitu peraturan kepada maskapai. "Peraturan dan ketentuan yang ketat terhadap kru pesawat dan jadwal kesiapan aircrfat dari aspek keselamatan dan keamanan," kata Wismono di Jakarta, Rabu (25/9).
Dia memastikan maskapai harus menyiapkan rencana yang ketat dengan menggunakan sumber daya yang tersedia secara hati-hati. Sebab, Wismono menuturkan maskapai beroperasi dalam lingkungan yang tidak dapat diprediksi.
Wismono menambahkan titik keseimbangan juga dibutuhkan maskapai saat harga minyak dunia yang sangat berfluktuasi. "Sebab harga avtur yang merupakan faktor dominan pada struktur biaya operasional penerbangan sekitar 30 sampai 50 persen dari total biaya operasi," ujar Wismono.
Untuk menekan harga avtur, Wismono mengatakan perlu regulasi distribusi bahan bakar pesawat yang lebih ketat. Dia menjelaskan hal tersebut dibutuhkan agar nantinya dapat memastikan harga sesuai dengan biaya distribusinya.
"Pembelian avtur juga harusnya tidak dikenakan PPN dan operator bandara juga bisa menyediakan supply avtur dan mengeluarkan izin untuk pemasok avtur selain Pertamina," tutur Wismono.
Wismono juga menyarankan pemerintah bisa menetapkan dan menyiapkan setidaknya empat bandar udara strategis. Semua bandara strategis tersebut, lanjut Wismono, bisa menjadi hub dan beroperasi melayani penerbangan selama 24 jam. Rahayu Subekti