Rabu 18 Sep 2019 17:13 WIB

Pemindahan Ibu Kota Dorong Pertumbuhan Investasi di Daerah

Pertumbuhan investasi tak hanya terjadi di daerah yang menjadi lokasi ibu kota baru

Rep: Adinda Pryanka/ Red: Nidia Zuraya
Foto aerial kawasan ibu kota negara baru di Kecamatan Sepaku, Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur.
Foto: Akbar Nugroho Gumay/Antara
Foto aerial kawasan ibu kota negara baru di Kecamatan Sepaku, Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/ Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro menuturkan, pembangunan ibu kota baru di Kalimantan Timur akan berdampak positif terhadap pertumbuhan investasi di provinsi lainnya. Khususnya di Sulawesi Selatan yang dapat tumbuh hingga satu persen.

Bambang menjelaskan, dampak positif lainnya juga akan didapatkan di Sulawesi Tengah. Berdasarkan hasil kajian Bappenas, dorongan investasi di provinsi tersebut akan tumbuh sampai 0,5 persen.

Baca Juga

"Untuk di Kalimantan Timur sendiri, peningkatan investasi dapat mencapai 47,7 persen dengan proyek pemindahan ibu kota ini," ujarnya dalam Rapat Koordinasi Nasional Bidang Properti Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia di Jakarta, Rabu (18/9).

Selain itu, investasi di daerah Sulawesi lainnya berpotensi terdorong sekitar 0,2 persen. Begitupun di Kalimantan Tengah dan Indonesia bagian Timur yang diprediksi tumbuh di atas 0,1 persen. Bahkan, Bambang menuturkan, investasi di DKI Jakarta juga berpotensi tumbuh 0,1 persen melalui proyek pembangunan ibu kota baru.

Meski pertumbuhan investasi di sejumlah daerah terlihat kecil, Bambang memastikan, dampak yang tercipta akan bersifat jangka panjang. Khususnya, dari segi pertumbuhan penciptaan lapangan kerja. "Ini dampak pada daerah-daerah yang memang memberikan supporting pada ibu kota baru," katanya.

Tidak hanya per daerah, Bambang mengatakan, pembangunan ibu kota baru juga meningkatkan investasi secara nasional. Dalam kajian Bappenas, diproyeksikan bahwa peningkatan investasi riil dapat tumbuh mencapai 4,7 persen.

Apabila dilihat dari sektoral, Bambang menjelaskan, ada tiga sektor yang akan terkena dampak signifikan dari segi peningkatan output di Kalimantan Timur. Ketiganya adalah konstruksi, kesehatan dan restoran. "Semen, perdagangan dan jasa lainnya juga akan ikut terdorong," katanya.

Di sisi lain, pemindahan ibu kota juga diproyeksikan dapat membantu mengurangi tingkat pengangguran. Sebab, berdasarkan kajian Bappenas, program ini dapat meningkatkan kesempatan kerja di Kalimantan Timur maupun nasional, masing-masing sampai 10,5 persen dan satu persen.

Perluasan penciptaan lapangan kerja tersebut didominasi di sektor konstruksi. Bambang mengatakan, menurut kajian dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), proyek infrastruktur senilai Rp 1 triliun dapat menyerap 14 ribu tenaga kerja. "Ini (proyek pemindahan ibu kota) sampai ratusan triliun rupiah, jadi luar biasa banyak (tenaga kerja yang terserap)," ucapnya.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement