Jumat 14 Jun 2019 17:55 WIB

Asita Kalbar Dukung Maskapai Asing Buka Rute Domestik

Asita Kalbar menilai maskapai asing bisa membuat persaingan lebih sehat

Petugas memeriksa tiket pesawat penumpang di Low Cost Carrier Terminal (LCCT) atau Terminal khusus penerbangan maskapai berbiaya rendah usai peresmian operasionalnya di Terminal 2 F Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, Rabu (1/5/2019)
Foto: Antara/Muhammad Iqbal
Petugas memeriksa tiket pesawat penumpang di Low Cost Carrier Terminal (LCCT) atau Terminal khusus penerbangan maskapai berbiaya rendah usai peresmian operasionalnya di Terminal 2 F Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, Rabu (1/5/2019)

REPUBLIKA.CO.ID, PONTIANAK -- Ketua Asosiasi Perjalanan Wisata (Asita) Kalimantan Barat, Nugroho Henray Ekasaputra mendukung wacana pemerintah untuk membuka kesempatan maskapai luar negeri membuka rute domestik di Indonesia. Hal ini menurutnya mendorong persaingan maskapai lebih sehat sehingga harga lebih kompetitif.

"Ujungnya menguntungkan masyarakat sebagai pengguna transportasi udara," ujarnya di Pontianak, Jumat (14/6). Dia menilai, saat ini, praktis hanya ada dua grup besar yang menguasai langit Indonesia, yaitu Garuda Indonesia (bersama CitiLink dan Sriwijaya Air) dan Lion Air Group (bersama Batik Air dan Wings Air).

Baca Juga

"Sebelumnya ketika pemainnya banyak, seperti Sriwijaya belum bergabung dengan Garuda Indonesia. Kemudian Batavia dan maskapai lain masih ada, harga tiket pesawat kompetitif, sehingga bisa dijangkau berbagai kalangan," papar dia.

Duopoli yang terjadi, menurutnya, membuat rentan terjadinya praktik kartel. Belakangan masyarakat mengeluhkan, tingginya harga tiket angkutan udara sejak awal tahun ini dan terlebih menjelang Idul Fitri.

"Jika maskapai asing masuk maka akan terjadi persaingan sempurna. Harga akan kompetitif dan kembali normal. Saya percaya ini bisa menjadi solusi,"tutur dia.

Henray menyebutkan bahwa selama ini para agen perjalanan wisata juga tidak dilibatkan oleh maskapai untuk berdiskusi soal tingginya harga tiket pesawat. Bahkan imbauan pemerintah untuk menurunkan harga, juga belum kelihatan dampaknya.

"Oleh karena itu menciptakan persaingan adalah solusi untuk menciptakan harga yang kompetitif. Maskapai yang cukup kuat untuk melayani rute domestik Indonesia yang begitu luas adalah Air Asia, Malaysia, maskapai dari Timur Tengah dan Eropa," katanya.

Menurut dia, kenaikan harga angkutan udara berdampak langsung pada menurunnya jumlah wisatawan nusantara dan mancanegara di Indonesia, termasuk Kalbar.

"Hal ini tentu kontraproduktif dengan ambisi pemerintah untuk menjadikan sektor pariwisata sebagai tumpuan pertumbuhan ekonomi dan penciptaan lapangan kerja. Di sisi lain kita gencar membangun infrastruktur pariwisata dan jor-joran berpromosi, sementara komponen harga mahal," kata dia.

Sementara itu data Badan Pusat Statistik terbaru, kunjungan wisatawan mancanegara (Wisman) yang datang ke Kalbar April 2019 mencapai 5.012 kunjungan, atau turun 38,61 persen dibandingkan kunjungan Wisman Maret 2019, sebesar 8.164 kunjungan.

"Kunjungan Wisman April 2019 tertinggi datang melalui pintu masuk Pontianak (38,03 persen) kemudian disusul pintu masuk Entikong (26,60 persen) dan pintu masuk Nanga Badau (18,69 persen). Sedangkan merupakan pintu masuk dengan kunjungan terendah (16,68 persen)," papar Kepala BPS Kalbar, Pitono.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement