REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Direktur Niaga PT Garuda Indonesia Ade R Susardi menyampaikan progres peningkatan penjualan tiket pasca kebijakan penurunan harga tiket pesawat. Hingga saat ini, ucap Ade, belum terdapat lonjakan signifikan terkait pemesanan tiket untuk periode Lebaran.
"Memang dampak penurunan harga tiket yang sudah diumumkan minggu lalu dan sudah berlaku saat ini untuk penerbangan domestik, itu kita lihat dampaknya terhadap pemesanan masih belum tinggi," ujar Ade saat konferensi pers terkait kesiapan BUMN untuk infrastruktur dan transportasi menyambut Idul Fitri 2025 di Media Center Kementerian BUMN, Kamis (6/3/2025).
Ade menyebutkan baru terdapat kenaikan pemesanan tiket sebesar lima persen dari sebelumnya. Menurut Ade, stagnasi pemesanan tiket tak lepas dari kebiasaan masyarakat yang membeli tiket menjelang keberangkatan.
"Biasanya itu tipikal penumpang di Indonesia. Ingin belinya buat besok, itu last minute, selalu begitu," sambung Ade.
Ade menyebutkan Garuda Indonesia mendukung kebijakan pemerintah dalam menurunkan harga tiket pesawat untuk periode mudik Lebaran. Ade menyatakan tiket dengan harga diskon sudah bisa dipesan mulai 1 Maret.
Ade mengatakan kebijakan ini mendapat dukungan dari berbagai pihak, termasuk maskapai penerbangan, Pertamina, pengelola bandara, serta AirNav Indonesia. Dengan dukungan tersebut, ucap Ade, harga tiket pesawat dapat turun hingga 14 persen.
"Nah, tadi mungkin sesuai dengan program pemerintah yang diterapkan dengan dukungan dari seluruh pemangku kepentingan, penurunan tiketnya dimulai di 14 persenan paling sedikit, mungkin di kita bisa sampai 18-19 persen juga untuk rute-rute tertentu," ucap Ade.
Sebagai contoh, Ade sampaikan, harga tiket Jakarta-Medan yang sebelumnya Rp 2,3 juta turun menjadi Rp 2 juta, sementara tiket Jakarta-Jayapura dari Rp 5,8 juta menjadi Rp 5 juta. "Jadi, silakan dibeli, mumpung harganya bagus, cuma periode penerbangannya jangan lupa tadi, dari 24 Maret sampai 7 April," lanjut Ade.
Terkait target okupansi penerbangan selama periode ini, Ade berharap bisa mencapai angka 90 persen. Namun, jika mengacu pada tren libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) sebelumnya, realisasi okupansi diperkirakan berada di kisaran 80 persen.
"Kalau kita inginnya 100 persen. Kalau Bali biasanya kejadian, 90 persen sekian. Tapi keseluruhan mengacu ke Nataru, dengan penurunan harga tiket itu kita harapkan ada di 90 persenan, tapi aktualnya di angka sekitar 84 sampai 86 persen," kata Ade.
Rekomendasi
-
Rabu , 22 Apr 2026, 12:07 WIB
Pertamina Patra Niaga Apresiasi Konsistensi Bareskrim POLRI dalam Penindakan Penyalahgunaan BBM LPG
-
-
Rabu , 22 Apr 2026, 11:00 WIBNegara Jamin Hak dan Masa Depan Keluarga Prajurit TNI yang Gugur di Lebanon
-
Rabu , 22 Apr 2026, 10:47 WIBTelkomGroup Borong Tiga Penghargaan Konektivitas Digital 2026, Bukti Hadirkan Akses Merata
-
Rabu , 22 Apr 2026, 10:10 WIBDi Tanah Air Satu Posisi Diperebutkan 12 Orang, Lowongan Kerja Luar Negeri Lebih Terbuka
-
Rabu , 22 Apr 2026, 10:03 WIBInfrastruktur EV di Ibu Kota Kian Lengkap, Pemprov DKI Jakarta Apresiasi PLN
-