Selasa 21 May 2019 06:45 WIB

Pemerintah Upayakan Pemulihan Investasi dan Ekspor

Pemerintah akan buat formula kebijakan supaya ketidakpastian ekspor jadi lebih kecil.

Rep: Adinda Pryanka / Red: Friska Yolanda
Menteri Keuangan Sri Mulyani menyampaikan Kerangka Ekonomi Makro (KEM) dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal (PPKF) Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2020 dalam Sidang Paripurna DPR di Gedung Nusantara II Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Senin (20/5/19).
Foto: Antara/Puspa Perwitasari
Menteri Keuangan Sri Mulyani menyampaikan Kerangka Ekonomi Makro (KEM) dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal (PPKF) Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2020 dalam Sidang Paripurna DPR di Gedung Nusantara II Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Senin (20/5/19).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pemerintah akan mengupayakan pemulihan kinerja investasi dan ekspor, yang selama ini rentan terdampak oleh ketidakpastian global, pada 2020. Hal ini bertujuan agar momentum pertumbuhan ekonomi tahun depan tetap terjaga.

"Kita lihat dalam jangka waktu 10 tahun terakhir, investasi dan ekspor itu volatilitasnya cukup tinggi. Jadi ini mungkin dua hal yang harus kita hati-hati," kata Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati saat ditemui di Gedung DPR, Jakarta, Senin (20/5).

Baca Juga

Untuk memperkuat kinerja investasi dan ekspor tersebut, pemerintah akan memformulasikan kebijakan agar ketidakpastian dari dua sektor ini menjadi lebih kecil. Selain itu, pemerintah akan menjaga konsumsi rumah tangga yang selama ini telah terjaga dengan baik melalui perbaikan daya beli, stabilitas harga dan penguatan kepercayaan konsumen.

"Kita tentu berharap kalau pertumbuhan di atas lima persen, dengan komposisi konsumsi rumah tangga di atas 55 persen dari PDB, maka pertumbuhan dari sisi konsumsi harus terjaga di atas lima persen," katanya.

Ia menambahkan pemerintah juga akan menerapkan kebijakan countercyclical dalam kebijakan fiskal. Hal ini bertujuan agar belanja pemerintah tumbuh tinggi dan bisa menjadi stimulus bagi pertumbuhan ekonomi.

Hal tersebut telah terlihat pada kuartal I 2019 dengan realisasi konsumsi pemerintah tumbuh 5,21 persen. Pertumbuhan ini lebih tinggi dari periode sama 2018 sebesar 2,71 persen.

Sebelumnya, pemerintah mengusulkan kisaran indikator ekonomi makro untuk pertumbuhan ekonomi dalam penyusunan RAPBN 2020 sebesar 5,3-5,6 persen. Dari sisi pengeluaran, konsumsi rumah tangga dan LNPRT diproyeksikan mencapai 4,9-5,2 persen, konsumsi pemerintah 4,1-4,3 persen.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement