Ahad 03 Mar 2019 16:10 WIB

Agen Wisata Mulai Keluhkan Harga Tiket Pesawat

Pendapatan agen perjalanan turun hingga 40 persen.

Rep: Dedy Darmawan Nasution/ Red: Friska Yolanda
Warga membeli tiket pesawat di salah satu agen tiket perjalanan di Jakarta, Selasa (3/2). (Republika/ Yasin Habibi)
Foto: Republika/ Yasin Habibi
Warga membeli tiket pesawat di salah satu agen tiket perjalanan di Jakarta, Selasa (3/2). (Republika/ Yasin Habibi)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Tingginya harga tiket maskapai penerbangan domestik bukan hanya berdampak pada konsumen, tetapi juga agen-agen wisata yang ada saat ini. Asosiasi Perusahaan Perjalanan Indonesia (Asita) menyatakan, sejak akhir tahun lalu, rata-rata agen wisata mengalami penurunan pendapatan hingga 40 persen.

“Penurunan pendapatan sangat signifikan. Ini terjadi dan diakui oleh perwakilan Asita di daerah,” kata Ketua Umum Asita, Rusmiati kepada Republika.co.id, Ahad (3/3).

Baca Juga

Rusmiati mengatakan, selain menurunkan pendapatan agen wisata, para pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang berdagang di kawasan destinasi wisata secara otomatis mengalami pengurangan omzet. Padahal, menurut dia, pendapatan UMKM setempat sangat berarti dalam memacu pertumbuhan ekonomi di daerah.

Akibat mahalnya harga tiket pesawat, Rusmiati mengakui, bahwa saat ini banyak penumpang yang bepergian dari Jakarta ke wilayah Sumatera melalui Kuala Lumpur, Malaysia. Menurut dia, kondisi itu harus menjadi perhatian pemerintah agak tidak berlalurt.

“Masa seperti itu? Iya ini sangat miris dan harus diperhatikan,” ujar dia.

Ia menjelaskan, selain tingginya harga tiket, bagasi berbayar yang saat ini diterapkan juga berpengaruh terhadap minat orang berwisata. Sebagai contoh, para pedagang pakaian dari Padang, Sumatera Barat kerap berbelanja ke Jakarta, sembari berwisata.

Namun, akibat bagasi berbayar itu, pedagang mengurungkan niat wisata dan memilih jasa ekspedisi untuk mengirim pakaian yang dipesan dari Jakarta. Dalam hal ini, agen wisata yang biasa menyediakan jasa paket wisata pun kehilangan pasar.

Rusmiati mengatakan, pada Rabu (6/3), pihaknya akan bertemu dengan tim dari maskapai Garuda Indonesia untuk bisa disepakati solusi yang saling mengutungkan. Selanjutnya, Asita akan berusaha agar dapat berbicara kepada seluruh maskapai domestik yang beroperasi di Indonesia.

“Saya sudah berkoordinasi dengan Lion Air dan Sriwijaya. Mudah-mudahan semuanya bisa bertemu,” ucap Rusmiati menambahkan.

Untuk diketahui, harga tiket pesawat untuk penerbangan domestik saat ini masih cukup tinggi. Meskipun pada sekitar medio Januari 2019, Indonesia National Air Carriers Association (Inaca) menyatakan akan menurunkan harga tiket penerbangan.

Namun, hingga pengujung kuartal I 2019 ini, harga tiket masih cenderung bertengger di batas atas tarif. Rute Jakarta-Padang,  misalnya, rata-rata maskapai low cost carrier (LCC) seperti Citilink, Lion Air, dan Sriwijaya, sebelumnya mematok tarif penumpang sekitar Rp 600 ribu. Namun, saat ini tiket dihargai antara Rp 900 ribu hingga Rp 1,3 juta per penumpang.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement