Kamis 11 Oct 2018 18:27 WIB

Menteri BUMN tak Hadiri Rapat Final Kenaikan BBM

Keuangan Pertamina migas itu dalam kondisi baik.

Rep: Idealisa Masyrafina/ Red: Friska Yolanda
Menteri BUMN Rini Soemarno (kiri) merangkul warga korban terdampak gempa di Desa Silabaya Utara, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, Rabu (10/10).
Foto: Antara/Sahrul Manda Tikupadang
Menteri BUMN Rini Soemarno (kiri) merangkul warga korban terdampak gempa di Desa Silabaya Utara, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, Rabu (10/10).

REPUBLIKA.CO.ID, NUSA DUA -- Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Rini Soemarno mengaku tidak hadir pengambilan keputusan untuk menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM). Rini mengaku saat itu tengah berada di Palu.

"Saya juga tidak tahu apa pembicarannya antara Pak Jonan, Menkeu, dengan yang lain. Mungkin sudah ada pembicaraan itu, tetapi memang penekanan dari awal memang kenaikan Pertamax," jelas Rini saat ditemui wartawan di Nusa Dua, Bali, Kamis (11/10).

Sebelumnya pada Rabu (10/10), Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Ignatius Johan mengumumkan kenaikan harga menjadi Rp 7.000 per liter dari sebelumnya Rp 6.550 per liter. Kenaikan tersebut, kata Jonan, dimulai paling cepat pada Rabu (10/10) pukul 18.00 WIB. Namun pada hari yang sama, kenaikan harga tersebut dibatalkan.

Menurut Rini, terakhir ia menghadiri rapat membahas BBM, yang diputuskan akan dinaikkan baru Pertamax. Kenaikan harga BBM Premium, kata Rini, memang akan dilakukan karena kompetitor Pertamina juga sudah menaikkan harga BBM yang dipicu oleh melonjaknya harga minyak dunia.

Namun, sulitnya akses komunikasi di Palu membuat Rini tidak mengetahui perkembangan terakhir dari harga BBM. Kemudian ketika ia mengetahui kabar kenaikan tersebut, Jonan sudah mengumumkan kepada media mengenai kenaikan harga Rp 450 per liter untuk BBM premium. 

"Kemudian saya bicara dengan Presiden, Presiden mengatakan untuk di-review. Setelah di-review, ini dampak negatif untuk inflasi dan daya beli masyrakat yang kecil dan menengah. Sudah saya instruksikan untuk tidak naik," tuturnya.

Adapun mengenai Pertamina, menurut Rini kondisi keuangan perusahaan BUMN migas itu dalam kondisi baik. Hal itu karena banyaknya proyek yang dikerjakan oleh Pertamina, seperti petrochemical. Dalam proyek ini meskipun ada investor namun Pertamina tetap berpartisipasi. Kemudian kerjasama dengan Eni Italia untuk mengkonversi kilang.

"Ini tentu penting untuk menjaga kesehatan Pertamina dan saya sudah review secara detail dengan Bu Nicke (Dirut Pertamina) dan Pak Pahala (Direktur Keuangan Pertamina), saya yakin kesehatannya tidak terganggu," kata Rini. 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement