Kamis 26 Feb 2026 14:13 WIB

Mandiri Sekuritas: Yield SBN 10 Tahun Diproyeksi 5,80–6,20 Persen di 2026

Mandiri Sekuritas yakin imbal hasil obligasi didorong carry daripada capital gain

Direktur keuangan Mandiri Sekuritas (Efektif Setelah Menunggu Persetujuan OJK) Faisal Rino Bernando, Ketua Dewan Pers Republik Indonesia Komaruddin Hidayat, Direktur Utama Mandiri Sekuritas Oki Ramadhana, Direktur Investemen Banking Mandiri Sekuritas (Efektif Setelah Menunggu Persetujuan OJK) Juwita Lestari.
Foto: dok Mandiri Sekuritas
Direktur keuangan Mandiri Sekuritas (Efektif Setelah Menunggu Persetujuan OJK) Faisal Rino Bernando, Ketua Dewan Pers Republik Indonesia Komaruddin Hidayat, Direktur Utama Mandiri Sekuritas Oki Ramadhana, Direktur Investemen Banking Mandiri Sekuritas (Efektif Setelah Menunggu Persetujuan OJK) Juwita Lestari.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- PT Mandiri Sekuritas memproyeksikan imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun akan bergerak dalam kisaran 5,80–6,20 persen sepanjang 2026. Proyeksi tersebut didasarkan pada asumsi suku bunga acuan Bank Indonesia berada di level 4,25 persen serta imbal hasil US Treasury (UST) 10 tahun di sekitar 3,8 persen.

Direktur Mandiri Sekuritas Oki Ramadhana menjelaskan bahwa proyeksi tersebut juga mengasumsikan tidak terjadinya penurunan peringkat (downgrade) sovereign rating Indonesia, yang saat ini berada di level Baa2 atau BBB oleh lembaga pemeringkat global.

“Imbal hasil obligasi kemungkinan akan lebih didorong oleh carry dibandingkan capital gain,” ujar Oki dalam market update Mandiri Sekuritas.

Menurutnya, arah kebijakan suku bunga domestik menjadi salah satu faktor kunci. Pasar memperkirakan suku bunga acuan berpotensi turun ke kisaran 4,25–4,5 persen pada semester II 2026. Namun, di sisi lain terdapat risiko peningkatan pasokan SBN, seiring pembiayaan fiskal yang semakin bergantung pada penerbitan obligasi pemerintah.

Hal tersebut terjadi di tengah berkurangnya penggunaan Saldo Anggaran Lebih (SAL), meningkatnya kebutuhan investasi, serta berkurangnya program pinjaman eksternal. Dengan kombinasi tersebut, dinamika supply dan demand di pasar obligasi akan menjadi penentu pergerakan yield tahun depan.

Terkait revisi outlook negatif oleh Moody's Investors Service, Oki menilai langkah tersebut tidak serta-merta berarti pasar obligasi Indonesia akan mengalami penurunan peringkat.

Ia menekankan bahwa kemampuan membayar utang Indonesia masih solid, tercermin dari defisit fiskal yang relatif terjaga dan rasio utang terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) yang rendah dibandingkan banyak negara peers.

“Negative outlook bukan berarti langsung downgrade. Kuncinya memang ke depan tidak sampai terjadi penurunan rating,” katanya.

Oki juga mengingatkan bahwa secara historis, Indonesia pernah mendapatkan revisi outlook negatif dari S&P Global Ratings pada April 2020. Namun, dampaknya terhadap pasar obligasi relatif terbatas, bahkan yield kembali turun sekitar satu bulan setelah pengumuman tersebut.

Fenomena serupa juga terjadi di Thailand dan Rumania ketika Moody’s merevisi outlook pada 2025, di mana dampaknya terhadap pasar obligasi dinilai minimal.

Dengan fundamental makro yang dinilai masih solid, Mandiri Sekuritas melihat pasar obligasi Indonesia tetap berada dalam jalur stabil. Selama rating tetap terjaga di level investment grade, minat investor baik domestik maupun asing diperkirakan tetap kuat, terutama didukung imbal hasil yang kompetitif di tengah tren penurunan suku bunga global.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement