Rabu 19 Sep 2018 18:52 WIB

Bahana: Penerbitan Obligasi Korporasi Masih Tinggi

Diperkirakan ada empat lagi perusahaan yang akan menerbitkan obligasi tahun ini.

Ilustrasi penawaran umum perdana saham.
Foto: Tahta Aidilla/Republika
Ilustrasi penawaran umum perdana saham.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Bahana Sekuritas menilai rencana penerbitan surat utang (obligasi) korporasi hingga akhir 2018 ini masih akan tinggi. Tingginya penerbitan itu seiring minat investor berinvestasi di instrumen itu.

Direktur Utama Bahana Sekuritas Feb Sumandar mengatakan, investor akan kembali melihat pasar obligasi Indonesia menjadi tempat berinvestasi dengan dukungan fundamental ekonomi yang terus memperlihatkan sejumlah perbaikan. "Korporasi pun masih melihat penerbitan obligasi sebagai sumber pendanaan untuk meningkatkan produktivitas," ujar Feb Sumandar, Rabu (19/9).

Animo korporasi untuk menerbitkan obligasi masih terus mengalir. Hal ini tercermin pada semester pertama 2018, Bahana telah mengantarkan perusahaan menerbitkan obligasi dengan total perolehan dana mencapai Rp 16,7 triliun.

"Dalam sisa tahun ini, diperkirakan bakal ada empat perusahaan akan menerbitkan obligasi," kata Feb Sumandar.

Ia menambahkan, pasar obligasi Indonesia juga menawarkan tingkat imbal hasil yang cukup menarik dibanding negara tetangga. Yield obligasi pemerintah naik menjadi 8,4 persen. 

"Bandingkan dengan yield obligasi India sebesar 8,1 persen, Filipina menawarkan imbal hasil sebesar 6,35 persen dan Malaysia sebesar 4,1 persen," paparnya.

Sedangkan pelaksanaan penawaran umum perdana saham (IPO), Feb Sumandar juga memperkirakan bakal ada lebih dari dua perusahaan yang akan mencari dana melalui penerbitan saham perdana. Pada semester pertama 2018, Bahana telah mengantarkan dua emiten melantai di bursa yakni PT BRI Syariah Tbk dan PT Indonesia Kendaraan Terminal Tbk.

"Kami meyakini sejumlah langkah yang dilakukan pemerintah bersama dengan Bank Indonesia baik dengan menaikkan suku bunga acuan maupun dengan menempuh berbagai kebijakan fiskal untuk menjaga stabilitas pasar keuangan domestik, menjadi sentimen positif bagi investor untuk kembali masuk ke pasar keuangan Indonesia," katanya.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement