Senin 21 Aug 2017 15:49 WIB

PLN Gandeng Tiga Bank BUMN untuk Transaksi Lindung Nilai

Rep: Idealisa Masyrafina/ Red: Nur Aini
Logo of Bank BRI (file photo)
Foto: dok. Republika
Logo of Bank BRI (file photo)

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) atau PLN melakukan kerja sama transaksi lindung nilai (hedging) valuta asing dengan tiga bank BUMN senilai 30 juta dolar AS. Adapun tiga bank tersebut antara lain Bank Mandiri, Bank BNI, dan Bank BRI dengan nilai masing-masing 10 juta dolar AS. Instrumen yang digunakan untuk hedging yakni call spread option.

Kepala Treasury PLN, Iskandar menjelaskan, PLN merupakan korporasi BUMN pertama yang menggunakan instrumen call spread option.

"Kebutuhan valas PLN dilindung nilai dengan call spread option untuk bunga jatuh tempo dua bulan," ujar Iskandar dalam sosialisasi SOP Hedging sekaligus penandatanganan kerja sama hedging di Bank Indonesia, Jakarta, Senin (21/8).

Menurut Iskandar, instrumen ini dipilih oleh perseroan untuk lindung nilai karena memiliki premi lebih murah dibandingkan instrumen hedging yang lain. Apabila instrumen forward memiliki premi sekitar 5 persen per annum (p.a), maka call spread option sekitar 2,67 persen p.a.

Kebutuhan valuta asing perseroan, kata Iskandar, hampir sebesar 7,5 miliar dolar AS. Meskipun volatilitas rupiah saat ini masih stabil, tetapi dalam beberapa bulan ke depan kondisi rupiah belum tentu tetap stabil, sehingga perlu dilakukan lindung nilai untuk mitigasi risiko. Adapun nilai tersebut digunakan perseroan untuk investasi dan operasional perusahaan. "Ada investasi dan operasional, seperti dengan gas kan masih bayar dengan dolar," kata Iskandar.

Direktur Keuangan dan Treasury BNI, Panji Irawan menjelaskan, untuk hedging dengan PLN premi yang dikenakan yakni sebesar 0,6 persen dalam waktu dua bulan atau sebesar 60 ribu dolar AS per masing-masing bank. "Ini dynamic hedging, jadi saat jatuh tempo kalau eksposur masih ada bisa melakukan hedging lagi, sesuai dengan eksposur yang dimiliki," kata Panji.

Senior Vice President (SVP) Treasury Bank Mandiri, Farida Thamrin menjelaskan, instrumen ini memiliki potensi besar karena memiliki biaya lebih murah. Transaksi ini umumnya digunakan oleh oleh korporasi-korporasi terkait dengan developer, infrastruktur dan komoditas. "PLN adalah BUMN pertama. Dengan tenor 1,5-2 bulan," kata Farida.

Selain untuk mitigasi risiko valas pada korporasi, kata Farida, dari sisi perbankan diharapkan akan memperdalam pasar keuangan, sehingga tidak sensitif dengan nilai tukar. "Dulu kan belinya cuma spot, sekarang mereka sudah bisa atur cash flow dengan hedging, " ujarnya.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement