Selasa 31 Jan 2017 07:48 WIB

Iran akan Setop Gunakan Dolar AS

Bank Sentral Iran
Foto: .
Bank Sentral Iran

REPUBLIKA.CO.ID, TEHERAN -- Pemerintah Iran akan berhenti menggunakan mata uang dolar AS. Langkah ini diambil Iran setelah Presiden AS Donald Trump mengeluarkan perintah eksekutif mengenai pembatasan pengungsi dari negara yang dihuni mayoritas Muslim, termasuk Iran. 

Menurut laporan surat kabar lokal berbahasa Inggris, Financial Tribune, Senin (30/1), keputusan itu diumumkan oleh Gubernur Bank Sentral Iran Valiollah Seif dalam sebuah wawancara televisi pada Ahad (29/1) malam. "Kami harus mengatur mata uang sebagai dasar pelaporan keuangan yang memiliki stabilitas yang lebih baik dan aplikasi yang lebih besar dalam perdagangan luar negeri kami," kata Seif seperti dilansir laman Forbes.com.

Dia menambahkan bahwa Iran memiliki pilihan untuk memilih mata uang atau memilih mata uang yang memainkan bagian terbesar dalam perdagangan luar negeri Iran. Pernyataan ini menunjukkan bahwa euro bisa menjadi alternatif yang logis untuk menggantikan posisi dolar AS.

Kebijakan untuk tidak lagi menggunakan dolar AS akan diberlakukan sejak awal tahun fiskal baru pada 21 Maret mendatang. Kebijakan Ini akan mempengaruhi semua laporan keuangan dalam valuta asing dan transaksi luar negeri Pemerintah.

Sejak AS menjatuhkan sanksi kepada Iran, negara ini memiliki sangat sedikit transaksi perdagangan dengan AS. Mitra dagang Iran paling penting adalah Uni Emirat Arab (UEA), yang menyumbang sekitar 24 persen dari seluruh impor dan ekspor Iran. Disusul Cina dengan kontribusi sebesar 22 persen, diikuti oleh Turki, India dan Uni Eropa, yang semuanya mencapai sekitar 6 persen dari total perdagangan Iran.

Namun, keputusan untuk tidak lagi menggunakan dolar AS bisa menjadi rumit bagi Iran, mengingat bahwa ekspor paling penting negara ini, yakni minyak mentah ditransaksikan dalam mata uang dolar AS. Pendapatan negara ini dari penjualan minyak mentah mencapai 41 miliar dolar AS pada tahun lalu.

Selain menyetop penggunaan dolar AS, Pemerintah Iran juga bersumpah untuk mengambil "langkah-langkah balasan" lainnya terhadap kebijakan imigrasi Presiden Donald Trump. Salah satu langkah balasan lainnya yang akan diambil Iran adalah berhenti mengeluarkan visa untuk warga AS. 

Namun, beberapa pengecualian untuk visa ini dapat dilakukan. Mengenai hal ini Kementerian Luar Negeri Iran mengatakan belum memutuskan apakah akan mengizinkan tim gulat gaya bebas AS ke negara itu. Tim gulat AS dijadwalkan akan bertanding di ajang Piala Dunia Gulat di provinsi Kermanshah pada pertengahan Februari 2017.

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement