Selasa 11 Jun 2024 09:45 WIB

Makin Tertekan Jelang Rilis The Fed, Jokowi Sebut Rupiah Masih Kuat, Apa Kata Pengamat?

Presiden Jokowi mengatakan nilai tukar di level Rp 16.200 masih dinilai baik.

Rep: Eva Rianti/ Red: Friska Yolandha
Teller menghitung mata uang Dolar AS di kantor cabang Bank Muamalat Bintaro Jaya, Tangerang Selatan, Kamis (30/5/2024). Nilai mata uang Rupiah terhadap dolar melemah hingga mencapai Rp16.250 di tengah ekspektasi pemangkasan suku bunga bank sentral AS (The Fed) yang semakin berkurang.
Foto: Dok Republika
Teller menghitung mata uang Dolar AS di kantor cabang Bank Muamalat Bintaro Jaya, Tangerang Selatan, Kamis (30/5/2024). Nilai mata uang Rupiah terhadap dolar melemah hingga mencapai Rp16.250 di tengah ekspektasi pemangkasan suku bunga bank sentral AS (The Fed) yang semakin berkurang.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Mata uang rupiah mengalami tekanan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Senin (10/6/2024). Pengamat memprediksi pelemahan mata uang Garuda akan berlanjut pada hari ini, Selasa (11/6/2024).

Pada Senin (10/6/2024), diketahui mata uang rupiah terkoreksi 0,54 persen atau 87 poin menjadi Rp 16.282 per dolar AS. Rerata mata uang di kawasan Asia mengalami pelemahan terhadap dolar AS. Pelemahan tersebut diproyeksikan berlanjut. 

Baca Juga

“Sedangkan perdagangan Selasa (11/6/2024), mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp 16.270-Rp 16.330 (per dolar AS),” kata Direktur Laba Forexindo Berjangka Ibrahim Assuaibi dalam keterangannya, dikutip Selasa (11/6/2024).

Pergerakan rupiah disinyalir masih berisiko melemah terhadap dolar AS pada perdagangan hari ini menjelang laporan kebijakan The Fed mengenai suku bunga acuan. Menurut prediksinya, Bank Sentral bakal mempertahankan suku bunga stabil.

“Pasar fokus pada pertemuan Fed mendatang, dengan keputusan suku bunga akan dirilis pada hari Rabu. Bank Sentral diperkirakan akan mempertahankan suku bunga tetap stabil, namun isyarat apapun mengenai kebijakan di masa depan akan diawasi dengan ketat terutama setelah tanda-tanda ketahanan inflasi AS dan pasar tenaga kerja AS baru-baru ini,” jelasnya.

Sejumlah pejabat Fed telah memperingatkan bahwa Bank Sentral akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama dalam menghadapi inflasi yang tinggi dan kekuatan pasar tenaga kerja. Data nonfarm payrolls yang kuat pada Jumat memperkuat gagasan tersebut.

Ibrahim menyebut, sebelum keputusan Fed pada Rabu, data inflasi indeks harga konsumen utama juga tersedia pada Ahad ini, dan diperkirakan menunjukkan inflasi tetap jauh di atas target tahunan The Fed sebesar 2 persen pada Mei.

Presiden Joko Widodo menilai nilai tukar (kurs) rupiah yang berada pada level Rp16.200-Rp16.300 per dolar AS masih dalam posisi yang baik di tengah ketidakpastian global.

"Ya ketidakpastian global sekarang ini memang menghantui semua negara, tapi menurut saya kalau masih di angka Rp 16.200-Rp 16.300 (per dolar AS) masih posisi yang baik," kata Presiden Jokowi saat memberikan keterangan pers usai menghadiri HUT Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) di Jakarta, Senin.

Menurut Presiden, saat ini semua negara mengalami hal yang sama, yakni tertekannya nilai mata uang mereka terhadap dolar AS. Oleh karenanya, Presiden menilai di tengah ketidakpastian global yang dialami semua negara, nilai tukar rupiah terhadap dolar masih dalam posisi yang baik.

"Semua negara sekarang ini mengalami hal yang sama, mengalami hal yang sama tertekan oleh yang namanya dolar kursnya," kata Presiden Jokowi.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement