Senin 04 Mar 2024 23:05 WIB

Reaktivasi Jalur Kereta Pangandaran, KAI: Masih Perlu Observasi

Untuk kondisi terowongan masih berdiri kokoh.

Jembatan rel kereta api Cikacepit jurusan Banjar-Cijulang yang sudah tidak aktif sejak akhir 1980 di Desa Pamotan, Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat, Senin (16/9/2019).
Foto: Antara/Adeng Bustomi
Jembatan rel kereta api Cikacepit jurusan Banjar-Cijulang yang sudah tidak aktif sejak akhir 1980 di Desa Pamotan, Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat, Senin (16/9/2019).

REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG -- PT KAI Daop 2 Bandung menyatakan, perlu ada inspeksi dan analisis lanjutan terkait dengan aset dan prasarana atas wacana reaktivasi jalur kereta api (KA) Bandung-Ciwidey dan Banjar-Pangandaran.

"Perlu observasi bersama, inspeksi, dan analisis lagi terkait dengan kondisi yang ada di jalur tersebut," kata Manajer Humas KAI Daop 2 Bandung Ayep Hanapi saat dihubungi di Bandung, Jabar, Senin (4/3/2024).

Baca Juga

Ayep menjelaskan bahwa di kedua jalur yang telah berpuluh tahun nonaktif tersebut, telah mengalami berbagai perubahan sejak masa jayanya dan ketika mulai dinonaktifkan. Berdasarkan data yang diterimanya, Ayep mengungkapkan bahwa untuk bangunan dinas perkeretaapian antara Banjar-Pangandaran dan Bandung-Ciwidey, masih ada dengan kondisi beragam mulai dari yang rusak sampai dimanfaatkan pihak lain dengan mekanisme sewa.

Untuk kondisi jalur lintas Banjar-Pangandaran dan Bandung-Ciwidey, sebagian masih terlihat dan kebanyakan telah tertutup termasuk oleh aspal menjadi jalan.

"Untuk kedua jalur itu, menggunakan rel ukuran R25, di mana sebagian masih ada dan sebagian sudah hilang, begitu juga jembatannya," kata Ayep.

Untuk kondisi terowongan khususnya di jalur Banjar-Pangandaran yang ada empat yakni Batulawang, Hendrik, Juliana dan Wihelmina, ucap Ayep, masih berdiri kokoh.

"Untuk terowongan Hendrik malah jadi akses jalan warga (mobil bisa masuk)," ucapnya.

Terkait dengan reaktivasi yang diusulkan oleh Pj Gubernur Jabar Bey Triadi Machmudin, Ayep mengatakan pihaknya mendukung hal tersebut dan sekarang menunggu respons Kementerian Perhubungan sebagai pengambil kebijakan dan pihak yang bisa mengeksekusi usulan tersebut.

"Kami ini operator. Atas usulan dari Pak Pj Gubernur Jabar, kami posisinya mendukung dan menanti arahan dari Kementerian Perhubungan dalam hal ini Ditjen KA sebagai regulator. Kami siap mendukung nantinya dengan pola-pola operasi yang disiapkan demi memperlancar proyek yang dikerjakan," ucapnya.

Sebelumnya, Bey Triadi Machmudin mengatakan Pemerintah Provinsi Jabar mengusulkan kepada Kementerian Perhubungan untuk mereaktivasi jalur kereta api Bandung-Ciwidey dan Banjar-Pangandaran untuk mendongkrak kunjungan wisatawan, meningkatkan perekonomian warga, dan juga bisa mengurangi kemacetan di jalan arteri.

"Beberapa hari lalu, kami sudah mengusulkan kepada Dirjen Perkeretaapian Kementerian Perhubungan untuk jalur kereta api Banjar-Pangandaran dan Bandung-Ciwidey. Kami minta tinjauan apakah memungkinkan direaktivasi," ujar Bey.

Panjang lintasan rel kereta relasi Banjar-Pangandaran yaitu 82 kilometer mulai dari Stasiun Banjar dan berakhir di Stasiun Cijulang dengan memiliki banyak jembatan dan terowongan. Jalur ini ditutup total pada 1 Februari 1982.

Sementara, jalur kereta api nonaktif Bandung-Ciwidey berjarak 40 kilometer yang dalam kisahnya, dulu jalur tersebut digunakan untuk mengangkut hasil bumi dari Bandung selatan ke Stasiun Bandung dan Jakarta (Batavia). Jalur kereta api dinonaktifkan pada 1982 karena kalah bersaing dengan mobil pribadi dan angkutan umum.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement