Sabtu 09 Dec 2023 23:58 WIB

Pertemuan COP 28, Indonesia Ungkap Upaya Kurangi Emisi lewat Pengelolaan Limbah B3

Emisi gas rumah kaca dari limbah B3 merupakan yang terbesar ketiga dari sektor limbah

Direktur Jenderal Pengelolaan Sampah, Limbah dan B3  Kementerian Lingkungan HIdup dan Kehutanan (PSLB3-KLHK), Rosa Vivien Ratnawati  melakukan soft launching Dokumen Rencana Operasional Zero Waste, Zero Emission Indonesia 2050, yang merupakan bentuk komitmen Indonesia terhadap masa depan yang berkelanjutan.
Foto: dok KLHK
Direktur Jenderal Pengelolaan Sampah, Limbah dan B3 Kementerian Lingkungan HIdup dan Kehutanan (PSLB3-KLHK), Rosa Vivien Ratnawati melakukan soft launching Dokumen Rencana Operasional Zero Waste, Zero Emission Indonesia 2050, yang merupakan bentuk komitmen Indonesia terhadap masa depan yang berkelanjutan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pemerintah berupaya mengurangi emisi gas rumah kaca melalui pemanfaatan limbah bahan berbahaya dan beracun (B3). Adapun upaya ini dilakukan untuk mendukung pencapaian Nationally Determined Contribution Indonesia.

Direktur Jenderal Pengelolaan Sampah, Limbah, dan Limbah Berbahaya dan Beracun (PSLB3) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Rosa Vivien Ratnawati, mengatakan  limbah B3 akan dikelola melalui mekanisme ekonomi sirkular dan program greenhouse gas emission reduction.

“Limbah B3 selama ini dilihat hanya dari bagaimana mengelola secara baik serta pemanfaatan dengan pendekatan recycle," ujarnya dalam keterangan resmi, Sabtu (9/12/2023).

"Cara ini bukan hanya untuk mengatasi Limbah B3, tetapi juga untuk memanfaatkan nilai ekonomi limbah B3 serta mendukung pencapaian NDC," tambahnya.

Hal ini saat menjadi pembicara kunci dalam talkshow bertema Greenhouse Gas Emission Reduction Through Optimization of Waste Utilization. Dialog dilakukan di sela Conference of The Parties 28, United Nation Climate Change Conference (COP-28, UNFCCC), di Paviliun Indonesia di Expo Centre, Dubai, Uni Emirat Arab. 

Berdasarkan Nationally Determined Contribution, Indonesia akan menurunkan emisi gas rumah kaca sampai 29 persen pada 2030. Target menjadi 41 persen jika dengan dukungan kerja sama negara sahabat.

Khusus emisi gas rumah kaca, Indonesia menargetkan penurunan 31,89 persen. Bahkan, jika dengan dukungan kerja sama, target persentase pengurangannya menjadi 43,2 persen. Target itu tercantum dalam Enhanced Nationally Determined Contribution yang sudah diserahkan kepada UNFCCC pada 23 September 2022.

Pengurangan emisi GRK melalui pengelolaan limbah B3 sudah dilakukan sejumlah perusahaan. PT Petrokimia Gresik memanfaatkan limbah fly ash dan bottom ash sebagai pupuk. Alhasil, perusahan ini bisa mengurangi emisi gas rumah kaca sebesar 998,22 ton CO2e dengan nilai ekonomi Rp10 miliar.

PT Inalum sebagai perusahaan pengelola aluminium secara terintegrasi juga sudah melakukannya. Perusahaan ini menggunakan energi terbarukan sampai 96 persen dari kebutuhan operasi dan berhasil mengurangi emisi gas rumah kaca sebesar 2.27,61 ton CO2e.

Selanjutnya, PT Prasadha Pamunah Limbah Indonesia (PPLI). Perusahaan pengelola limbah B3 ini telah mengelola limbah B3 yang ramah lingkungan dan mampu mengurangi emisi GRK sebesar 30.651 ton CO2e.  

Berdasarkan laporan Inventarisasi Gas Rumah Kaca, emisi gas rumah kaca dari limbah B3 merupakan yang terbesar ketiga dari sektor limbah. Tercatat total emisinya sebesar 128.100 Gg CO2 e yang berasal dari pemanfaatan limbah B3 sebagai substitusi sumber energi, pengolahan incinerator, serta landfill yang dapat menghasilkan emisi Karbon Dioksida dan Gas Metan.

Rosa menyebut pendekatan yang perlu dilakukan adalah dengan ekonomi sirkular, 3R (reduce, reuse, dan recycle), serta konservasi sumber daya alam. Melalui sirkuler ekonomi, limbah B3 diekstraksi kemudian digunakan kembali dalam proses produksi.

"Sehingga, selain dapat menekan penggunaan material, juga meningkatkan nilai tambah produksi ataupun sebagai energi," ucapnya.

Pada 2022, PSLB3 KLHK mencatat sebanyak 71 persen dari total 6.965.909 ton limbah B3 telah dimanfaatkan  kembali. Nilai pemanfaatannya sebesar Rp 17 triliun yang berasal dari pemanfaatan limbah B3,  substitusi bahan baku, solvent recovery, produk pertanian, metal, copper, kertas, oil, serta bahan kimia. 

"Pemanfaatan Limbah B3, selain dapat menurunkan emisi GRK, juga mendukung ekonomi sirkular dan dapat mencegah dampak terhadap lingkungan," ucapnya.

Dia berharap contoh-contoh itu dapat menginspirasi seluruh pelaku usaha untuk melakukan langkah konkret dalam memanfaatkan limbah untuk mencapai pengurangan emisi gas rumah kaca dan ekonomi sirkular.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement