Kamis 07 Dec 2023 17:48 WIB

Banyak Sentimen Negatif Eksternal, IHSG Tetap Menghijau

IHSG ditutup menguat 47,22 poin atau 0,67 persen ke posisi 7.134,62.

Karyawan beraktivitas di dekat layar yang menampilkan indeks harga saham gabungan (IHSG).
Foto: Republika/Thoudy Badai
Karyawan beraktivitas di dekat layar yang menampilkan indeks harga saham gabungan (IHSG).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Kamis (7/12/2023) sore, ditutup menguat di tengah pelemahan bursa saham kawasan Asia dan global. IHSG ditutup menguat 47,22 poin atau 0,67 persen ke posisi 7.134,62. Sementara kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 naik 8,64 poin atau 0,92 persen ke posisi 945,44.

“IHSG dan bursa regional Asia terseret di zona merah, pelaku pasar cenderung berhati-hati karena Moody's memberikan peringatan penurunan peringkat pada perusahaan-perusahaan milik negara dan bank-bank China pada Rabu (6/12), sehari setelah mereka memangkas prospek peringkat kredit pemerintah negara tersebut,” sebut Tim Riset Pilarmas Investindo Sekuritas dalam kajiannya ujar di Jakarta, Kamis (7/12/2023).

Baca Juga

Dari dalam negeri, Bank Indonesia (BI) melaporkan cadangan devisa (cadev) Indonesia pada akhir November 2023 tercatat senilai 138,1 miliar dolar Amerika Serikat (AS), atau meningkat dibandingkan posisi akhir Oktober 2023 yang senilai 133,1 miliar dolar AS.

"Kenaikan posisi cadev ini antara lain dipengaruhi oleh penerbitan global bond pemerintah dan penarikan pinjaman luar negeri pemerintah," ujar Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Erwin Haryono.

 

Dari mancanegara, lembaga pemeringkat utang Moody's Investor Services memangkas prospek peringkat utang pemerintah China dari stabil menjadi negatif, yang mana pasar tentunya bereaksi mengingat China merupakan salah satu kekuatan ekonomi terbesar di dunia.

Penurunan tingkat peringkat utang itu akan memberikan dampak negatif terhadap pemulihan ekonomi China, yang mana membuat para pelaku pasar cenderung berhati-hati berinvestasi di China.

Dengan demikian, hal itu merupakan tanda terbaru meningkatnya kekhawatiran pasar keuangan global atas dampak melonjaknya utang pemerintah China, serta krisis properti di negara dengan kekuatan ekonomi terbesar kedua di dunia tersebut yang semakin parah.

Dibuka menguat, IHSG betah di teritori positif sampai penutupan sesi pertama perdagangan saham. Pada sesi kedua, IHSG masih betah di zona hijau hingga penutupan perdagangan saham.

Berdasarkan Indeks Sektoral IDX-IC, dua sektor meningkat yaitu dipimpin sektor barang baku sebesar 4,06 persen, diikuti sektor infrastruktur yang naik sebesar 3,08 persen.

Sedangkan, sembilan sektor turun yaitu sektor kesehatan turun paling dalam minus 1,58 persen, diikuti sektor properti dan sektor energi yang masing- masing turun sebesar 1,23 persen dan 1,58 persen.

Saham-saham yang mengalami penguatan terbesar yaitu TPIA, BRPT, GZCO, PURI dan IOTF. Sedangkan saham-saham yang mengalami pelemahan terbesar, yakni STRK, MUTU, WINS, UDNG dan SRTG.

Frekuensi perdagangan saham tercatat sebanyak 1.410.619 kali transaksi dengan jumlah saham yang diperdagangkan sebanyak 26,31 miliar lembar saham senilai Rp 13,33 triliun. Sebanyak 177 saham naik, 377 saham menurun, dan 206 tidak bergerak nilainya.

Bursa saham regional Asia sore ini antara lain, indeks Nikkei melemah 587,59 poin atau 1,76 persen ke 32.858,30, indeks Hang Seng melemah 117,37 poin atau 0,71 persen ke 16.345,89, indeks Shanghai melemah 2,72 poin atau 0,09 persen ke 2.966,21 indeks Strait Times melemah 13,60 poin atau 0,44 persen ke 3.073,64.

sumber : Antara
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement