Rabu 25 Oct 2023 13:06 WIB

Pelemahan Rupiah hingga Konflik Geopolitik Menghantui, Ini Dampaknya ke Emiten

Pelemahan rupiah, suku bunga tinggi hingga ketegangan geopolitik masih jadi tantangan

Rep: Retno Wulandhari/ Red: Lida Puspaningtyas
Karyawan menghitung mata uang dollar AS di gerai penukaran mata uang asing VIP (Valuta Inti Prima) Money Changer, Jakarta, Selasa (17/10/2023). Nilai tukar (kurs) rupiah ditutup menguat tipis 5 poin ke level Rp15.716 per dollar AS. Sebelumnya rupiah sempat melemah hingga tembus Rp15.721 per dollar AS.
Foto: Republika/Prayogi
Karyawan menghitung mata uang dollar AS di gerai penukaran mata uang asing VIP (Valuta Inti Prima) Money Changer, Jakarta, Selasa (17/10/2023). Nilai tukar (kurs) rupiah ditutup menguat tipis 5 poin ke level Rp15.716 per dollar AS. Sebelumnya rupiah sempat melemah hingga tembus Rp15.721 per dollar AS.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sejumlah risiko masih membayangi kinerja emiten di berbagai sektor. Pelemahan rupiah, suku bunga tinggi hingga ketegangan geopolitik berpotensi menekan kinerja emiten sepanjang tahun ini.

Kepala Divisi Pemeringkatan Non Jasa Keuangan I Pefindo Niken Indriarsih mengatakan dampak anjloknya nilai tukar akan sangat dirasakan oleh perusahaan yang memiliki utang besar dalam mata uang asing terutama dolar AS, sementara pendapatan utamanya dalam rupiah.

Seperti diketahui, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS terus mengalami pelemahan dalam beberapa waktu terakhir. Mata uang garuda tersebut bahkan nyaris menyentuh level psikologi Rp 16 ribu seiring menguatnya indeks dolar AS.

"Kalau utangnya dalam mata uang rupiah mungkin tidak terlalu terekspos dengan risiko pelemahan rupiah," kata Niken saat konferensi pers, Rabu (25/10/2023).

Beberapa emiten yang rentan terhadap pergerakan rupiah utamanya berasal dari sektor kontraktor, otomotif, consumer goods dan telekomunikasi. Kebanyakan emiten di sektor tersebut memiliki utang dalam satuan dolar serta cukup tergantung pada impor.  

Selain itu, menurut Niken, perusahaan yang paling terdampak bunga tinggi adalah yang memiliki utang dengan bunga floating dimana nilai bunga akan berubah mengikuti pergerakan harga di pasar, sehingga jika suku bunga sedang tinggi akan berpengaruh pada cost of fund.

Sementara risiko geopolitik akan berdampak pada perusahaan yang memiliki ketergantungan dengan permintaan atau suplai dari global. Perusahaan di Indonesia yang bidang usahanya bergerak di sektor komoditas seringkali terimbas memburuknya hubungan geopolitik di Timur Tengah seperti saat ini di Palestina dan Israel.  

"Kalau konflik meluas, dampaknya akan terasa ke komoditas minyak dan gas yang saat ini harganya sudah mulai naik lagi. Kalau harga kembali normal, berarti ada potensi koreksi di harga komoditas sehingga berpengaruh ke arus kas perusahaan," terang Niken.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement