REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Aksi demonstrasi yang diwarnai kericuhan memengaruhi pasar keuangan. Nilai tukar rupiah melemah 147 poin menuju level Rp16.499,5 per dolar AS pada penutupan perdagangan Jumat.
“Ketegangan sosial dan politik dalam negeri yang memanas sejak Kamis (28/8/2025) terus akan memanas. Apalagi bumbu-bumbu sebelumnya dimana pemerintah akan memberikan tunjangan untuk perumahan terhadap DPR, ini pun juga membuat satu ketegangan tersendiri,” kata Pengamat Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi dalam keterangannya, Jumat (29/8/2025).
Ibrahim menuturkan, sentimen semakin negatif karena terjadi kasus korupsi yang masif dilakukan mantan aktivis 98 yang merupakan seorang pejabat di pemerintahan.
Kondisi karut marut tersebut, kata Ibrahim, membuat pasar sedikit apatis terhadap perpolitikan di Indonesia.
“Semakin panasnya kondisi sosial dan politik di Indonesia imbas adanya korban jiwa pada aksi demonstrasi. Kabar adanya korban jiwa ini mulai ramai di kalangan masyarakat sejak malam tadi sehingga menyebabkan kondisi demonstrasi semakin tereskalasi,” ujar Ibrahim.
Sementara itu, dari luar negeri, Ibrahim mengatakan ada beberapa sentimen yang memengaruhi pergerakan volatilitas rupiah hari ini. Seperti data ekonomi terbaru Amerika Serikat (AS), dinamika perpolitikan antara Pemerintah AS dan Bank Sentral AS, serta dinamika geopolitik.
“Data dari AS menunjukkan bahwa ekonomi tumbuh dengan pesat, melampaui proyeksi dan pembacaan awal untuk kuartal kedua tahun 2025. Selain itu, jumlah warga Amerika yang mengajukan tunjangan pengangguran menurun, sebuah tanda kekuatan di pasar tenaga kerja,” kata Ibrahim.
Pengukuran kedua Produk Domestik Bruto (PDB) kuartal II tahun ini menunjukkan ekspansi tahunan sebesar 3,3 persen, melampaui proyeksi 3,1 persen, dan naik dari 3,0 persen sebelumnya. Sementara klaim pengangguran awal turun menjadi 229 ribu, sedikit lebih baik dari konsensus 230 ribu dan turun dari revisi 234 ribu.
Ibrahim melanjutkan, Bloomberg mengungkapkan bahwa Gubernur The Fed Lisa Cook menggugat Presiden AS Donald Trump atas upaya pemecatannya mengenai dugaan penipuan hipotek, yang memicu pertikaian bersejarah atas independensi bank sentral AS.
Sementara itu, Reuters melaporkan, Gubernur Federal Reserve Christopher Waller akan mendukung penurunan suku bunga pada pertemuan bulan September dan penurunan lebih lanjut selama tiga hingga enam bulan ke depan untuk mencegah pasar tenaga kerja kolaps.